Selasa, 24 November 2015

PROSES MASUK DAN BERKEMBANGNYA ISLAM di INDONESIA

PROSES MASUK DAN BERKEMBANGNYA ISLAM di INDONESIA

 

     Islam merupakan salah satu agama yang masuk dan berkembang di Indonesia. Hal ini tentu bukanlah sesuatu yang asing bagi Anda, karena di mass media mungkin Anda sudah sering mendengar atau membaca bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki penganut agama Islam terbesar di dunia.Agama Islam masuk ke Indonesia dimulai dari daerah pesisir pantai, kemudian diteruskan ke daerah pedalaman oleh para ulama atau penyebar ajaran Islam. Mengenai kapan Islam masuk ke Indonesia dan siapa pembawanya terdapat beberapa teori yang mendukungnya.
Proses Masuk dan Berkembangnya Agama dan Kebudayaan Islamdi Indonesia.
Proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia menurut Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya yang berjudul Menemukan Sejarah, terdapat 3 teori yaitu teori Gujarat, teori Makkah dan teori Persia.Ketiga teori tersebut di atas memberikan jawaban tentang permasalah waktu masuknya Islam ke Indonesia, asal negara dan tentang pelaku penyebar atau pembawa agama Islam ke Nusantara. Untuk mengetahui lebih jauh dari teori-teori tersebut, silahkan Anda simak uraian materi
berikut ini. Teori Gujarat
Teori berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad 13 dan
pembawanya berasal dari Gujarat (Cambay), India. Dasar dari teori ini adalah:
a. Kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran
Islam di Indonesia.
b. Hubungan dagang Indonesia dengan India telah lama melalui jalur Indonesia –
Cambay – Timur Tengah – Eropa.
c. Adanya batu nisan Sultan Samudra Pasai yaitu Malik Al Saleh tahun 1297 yang
bercorak khas Gujarat.
Pendukung teori Gujarat adalah Snouck Hurgronye, WF Stutterheim dan Bernard
H.M. Vlekke. Para ahli yang mendukung teori Gujarat, lebih memusatkan perhatiannya
pada saat timbulnya kekuasaan politik Islam yaitu adanya kerajaan Samudra Pasai.
Hal ini juga bersumber dari keterangan Marcopolo dari Venesia (Italia) yang pernah
singgah di Perlak ( Perureula) tahun 1292. Ia menceritakan bahwa di Perlak sudah
banyak penduduk yang memeluk Islam dan banyak pedagang Islam dari India yang
menyebarkan ajaran Islam.
Demikianlah penjelasan tentang teori Gujarat. Silahkan Anda simak teori berikutnya.
Teori Makkah
Teori ini merupakan teori baru yang muncul sebagai sanggahan terhadap teori lama
yaitu teori Gujarat.
Teori Makkah berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 dan
pembawanya berasal dari Arab (Mesir).
Dasar teori ini adalah:
a. Pada abad ke 7 yaitu tahun 674 di pantai barat Sumatera sudah terdapat
perkampungan Islam (Arab); dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudah
mendirikan perkampungan di Kanton sejak abad ke-4. Hal ini juga sesuai dengan
berita Cina.
b. Kerajaan Samudra Pasai menganut aliran mazhab Syafi’i, dimana pengaruh
mazhab Syafi’i terbesar pada waktu itu adalah Mesir dan Mekkah. Sedangkan
Gujarat/India adalah penganut mazhab Hanafi.
c. Raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar Al malik, yaitu gelar tersebut berasal
dari Mesir.
Pendukung teori Makkah ini adalah Hamka, Van Leur dan T.W. Arnold. Para ahli
yang mendukung teori ini menyatakan bahwa abad 13 sudah berdiri kekuasaan politik
Islam, jadi masuknya ke Indonesia terjadi jauh sebelumnya yaitu abad ke 7 dan yang
berperan besar terhadap proses penyebarannya adalah bangsa Arab sendiri.
Dari penjelasan di atas, apakah Anda sudah memahami? Kalau sudah paham simak
teori berikutnya.
Teori Persia
Teori ini berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad 13 dan pembawanya
berasal dari Persia (Iran).
Dasar teori ini adalah kesamaan budaya Persia dengan budaya masyarakat Islam
Indonesia seperti:
a. Peringatan 10 Muharram atau Asyura atas meninggalnya Hasan dan Husein
cucu Nabi Muhammad, yang sangat di junjung oleh orang Syiah/Islam Iran. Di
Sumatra Barat peringatan tersebut disebut dengan upacara Tabuik/Tabut.
Sedangkan di pulau Jawa ditandai dengan pembuatan bubur Syuro.
b. Kesamaan ajaran Sufi yang dianut Syaikh Siti Jennar dengan sufi dari Iran yaitu
Al – Hallaj.
c. Penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tandatanda
bunyi Harakat.
d. Ditemukannya makam Maulana Malik Ibrahim tahun 1419 di Gresik.
e. Adanya perkampungan Leren/Leran di Giri daerah Gresik. Leren adalah nama
salah satu Pendukung teori ini yaitu Umar Amir Husen dan P.A. Hussein
Jayadiningrat.
Ketiga teori tersebut, pada dasarnya masing-masing memiliki kebenaran dan kelemahannya. Maka itu berdasarkan teori tersebut dapatlah disimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia dengan jalan damai pada abad ke – 7 dan mengalami perkembangannya pada abad 13. Sebagai pemegang peranan dalam penyebaran
Islam adalah bangsa Arab, bangsa Persia dan Gujarat (India).
Proses penyebaran Islam di Indonesia atau proses Islamisasi tidak terlepas dari
peranan para pedagang, mubaliqh/ulama, raja, bangsawan atau para adipati.
Di pulau Jawa, peranan mubaliqh dan ulama tergabung dalam kelompok para wali
yang dikenal dengan sebutan Walisongo atau wali sembilan yang terdiri dari:
1.Maulana Malik Ibrahim dikenal dengan nama Syeikh Maghribi menyebarkan Islam di Jawa Timur.
2.Sunan Ampel dengan nama asli Raden Rahmat menyebarkan Islam di daerah Ampel Surabaya.
3.Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel memiliki nama asli Maulana Makdum Ibrahim, menyebarkan Islam di Bonang (Tuban).
4.Sunan Drajat juga putra dari Sunan Ampel nama aslinya adalah Syarifuddin, menyebarkan Islam di daerah Gresik/Sedayu.
5.Sunan Giri nama aslinya Raden Paku menyebarkan Islam di daerah Bukit Giri (Gresik)
6.Sunan Kudus nama aslinya Syeikh Ja’far Shodik menyebarkan ajaran Islam di daerah Kudus.
7.Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Mas Syahid atau R. Setya menyebarkan ajaran Islam di daerah Demak.
8.Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Umar Syaid menyebarkan islamnya di daerah Gunung Muria.
9.Sunan Gunung Jati nama aslinya Syarif Hidayatullah, menyebarkan Islam di Jawa Barat (Cirebon) Demikian sembilan wali yang sangat terkenal di pulau Jawa, Masyarakat Jawa
sebagian memandang para wali memiliki kesempurnaan hidup dan selalu dekat
dengan Allah, sehingga dikenal dengan sebutan Waliullah yang artinya orang yang
dikasihi Allah.

KERAJAAN TERNATE DAN TIDORE

KERAJAAN TERNATE DAN TIDORE

A.     LETAK KERAJAAN
Secara geografis kerajaan Ternate dan Tidore terletak di Kepulauan Maluku, antara Sulawesi dan Papua. Letak tersebut sangat strategis dan penting dalam dunia perdagangan masa itu. Pada masa itu, kepulauan Maluku merupakan penghasil rempah-rempah terbesar sehingga dijuluki sebagai “The Spicy Island”. Rempah-rempah menjadi komoditas utama dalam dunia perdagangan pada saat itu, sehingga setiap pedagang maupun bangsa-bangsa yang datang dan bertujuan ke sana. Melewati rute perdagangan tersebut agama Islam meluas ke Maluku, seperti Ambon, Ternate, dan Tidore. Keadaan seperti ini telah mempengaruhi aspek-aspek kehidupan masyarakatnya, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya.
Pada abad ke 14 Masehi, di Maluku Utara telah berdiri 4 kerajaan yaitu Jailolo,Ternate, Tidore, dan Bacan. Masing-masing kerajaan dipimpin oleh seorang kolano. Keempat kerajaan tersebut berasal dari satu keturunan, yaitu JAFAR SADIK, seorang bangsa Arab keturunan Nabi Muhammad saw. Kemajuan Ternate membuat iri kerajaan lainnya. Beberapa kali keempat kerajaan tersebut terlibat perang memperebutkan hegemoni rempah-rempah.
Namun, akhirnya mereka dapat mengakhirinya dalam perundingan di Pulau Motir. Dalam persetujan Motir ditetapkan Ternate menjadi kerajaan pertama, Jailolo kedua, Tidore yang ketiga, dan Bacan yang keempat. Kerajaan- kerajaan di Maluku sangat akrab menjalin hubungan ekonomi dengan pedagang Jawa sejak zaman Majapahit. Pedagang Maluku sering mengunjungi bandar seperti Surabaya, Gresik, dan Tuban. Sebaliknya, pedagang Jawa datang ke Maluku untuk membeli rempah-rempah. Hubungan kedua belah pihak ini sangat berpengaruh terhadap proses penyebaran agama islam di Indonesia. Sejak abad ke-13, Maluku sudah ramai dikunjungi oleh pedagang-pedagang Islam dari Jawa dan Melayu. Seiring dengan ramainya perdagangan, berdatangan pula para mubaligh dari Jawa Timur untuk mengajarkan agama Islam.Salah seorang mubaligh yang berjasa menyiarkan agama islam di Maluku ialah Sunan Giri dari Gresik, Jawa Timur.
Kerajaan Ternate merupakan kerajaan yang mendapatkan pengaruh Islam dari para pedagang Jawa dan Melayu. Pusat pemerintahan Ternate terdapat di Sampalu. Raja ternate yang pertama ialah Sultan Zainal Abidin (1486-1500). Raja Ternate yang terkenal ialah Sultan Harun. Hasil utama Ternate waktu itu ialah cengkeh dan pala.

B.      KEHIDUPAN POLITIK
Di kepulauan Maluku terdapat kerajaan kecil, diantaranya kerajaan ternate sebagai pemimpin Uli Lima yaitu persekutuan lima bersaudara. Uli Siwa yang berarti persekutuan sembilan bersaudara. Ketika bangsa Portugis masuk, Portugis langsung memihak dan membantu Ternate, Hal ini dikarenakan Portugis mengira Ternate lebih kuat. Begitu pula bangsa Spanyol memihak Tidore akhirnya terjadilah peperangan antara dua bangsa kulit, untuk menyelesaikan, Paus turun tangan dan menciptakan perjanjian Saragosa. Dalam perjanjian tersebut bangsa Spanyol harus meninggalkan Maluku dan pindah ke Filipina, sedangkan Portugis tetap berada di Maluku.
Untuk dapat memperkuat kedudukannya, portugis mendirikan sebuah benteng yang di beri nama Benteng Santo Paulo. Namun tindakan Portugis semakin lama di benci oleh rakyat dan para penjabat kerajaan Ternate. Oleh karena itu Sultan Hairun secara terang-terangan menentang politik monopoli dari bangsa Portugis. Sultan Baabullah (Putra Sultan Hairun) bangkit menentang Portugis. Tahun 1575 M Portugis dapat dikalahkan dan meninggalkan benteng.

C.       KEHIDUPAN EKONOMI
Tanah di kepulauan Maluku itu subur dan diliputi hutan rimba yang banyak memberikan hasil diantaranya cengkeh dan di kepulauan Banda banyak menghasilkan pala. Pada abad ke 12 M permintaan rempah-rempah meningkat, sehingga cengkeh merupakan komoditi yang penting. Pesatnya perkembangan perdagangan keluar Maluku mengakibatkan terbentuknya persekutuan. Selain itu mata pencaharian perikanan turut mendukung perekonomian masyarakat.

D.     KEHIDUPAN SOSIAL
Kedatangan bangsa Portugis di kepulauan Maluku bertujuan untuk menjalin perdagangan dan mendapatkan rempah-rempah. Bangsa Portugis juga ingin mengembangkan agama Katholik. Dalam 1534 M, agama Katholik telah mempunyai pijakan yang kuat di Halmahera, Ternate, dan Ambon, berkat kegiatan Fransiskus Xaverius. Seperti sudah diketahui, bahwa sebagian dari daerah maluku terutama Ternate sebagai pusatnya, sudah masuk agama islam. Oleh karena itu, tidak jarang perbedaan agama ini dimanfaatkan oleh orang-orang Portugis untuk memancing pertentangan antara para pemeluk agama itu. Dan bila pertentangan sudah terjadi maka pertentangan akan diperuncing lagi dengan campur tangannya orang-orang Portugis dalam bidang pemerintahan, sehingga seakan-akan merekalah yang berkuasa. Setelah masuknya kompeni Belanda di Maluku, semua orang yang sudah memeluk agama Katholik harus berganti agama menjadi Protestan. Hal ini menimbulkan masalah-masalah sosial yang sangat besar dalam kehidupan rakyat dan semakin tertekannya kehidupan rakyat. Keadaan ini menimbulkan amarah yang luar biasa dari rakyat Maluku kepada kompeni Belanda. Di Bawah pimpinan Sultan Ternate, perang umum berkobar, namun perlawanan tersebut dapat dipadamkan oleh kompeni Belanda. Kehidupan rakyat Maluku pada zaman kompeni Belanda sangat memprihatinkan sehingga muncul gerakan menentang Kompeni Belanda.
E.      KEHIDUPAN BUDAYA
Rakyat Maluku, yang didominasi oleh aktivitas perekonomian tampaknya tidak begitu banyak mempunyai kesempatan untuk menghasilkan karya-karya dalam bentuk kebudayaan. Jenis-jenis kebudayaan rakyat Maluku tidak begitu banyak kita ketahui sejak dari zaman berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam seperti Ternate dan Tidore.
Ø  Sejarah Kerajaan Ternate dan Tidore
Jejak-jejak arkeologi atau bukti fisik pengaruh budaya Islam dapat dilihat dengan berbagai bentuk tinggalan budaya Islam masa lampau baik peninggalan kerajaan maupun peninggalan daerah negeri-negeri yang bercorak Islam. Daerah Pusat kekuasaan Islam di wilayah Maluku Utara peninggalan arkeologi yang monumental misalnya istana atau kedaton, masjid kuno, alqur’an kuno dan berbagai naskah kuno lainnya, selain tentu saja berbagai benda pusaka peninggalan kerajaan. Sementara itu, di wilayah Maluku bagian selatan, meskipun tidak berkembang menjadi sebuah kesultanan dengan wilayah kekuasaan yang lebih luas, namun pengaruh Islam dapat dilihat dengan adanya negeri-negeri bercorak keagaaam Islam. Diantara negeri mbergabung menjadi kesatuan adat yang menunjukkan adanya ikatan integrasi sosial yang kuat. Meskipun tidak berkembang menjadi daerah Kesultanan namun negeri-negeri tersebut memiliki pemerintahan dan simbol-simbol kepemimpinan tertentu. Selain itu dapat dijumpai pula beberapa bangunan monumental peninggalan Islam yang tidak jauh berbeda dengan peninggalan yang terdapat di pusat-pusat kekuasaan Islam diantaranya masjid kuno, naskah kuno dan berbagai barang pusaka kerajaan
 Secara arkeologis bukti-bukti kemapanan Islam dapat ditelusuri di wilayah bekas Kerajaan Hitu. Dapat dikatakan pada wilayah bagian selatan kepulauan Maluku, kerajaan Hitu adalah sebuah wilayah dengan keagamaan dan budaya Islam yang paling kuat dan paling mapan. Daerah ini selama ini memang dianggap sebagai wilayah kerajaan Islam di Pulau Ambon yang kekuasaan dan keislamannya sejajar dengan Ternate. Di wilayah ini ditemukan bekas Masjid Kuno Tujuh Pangkat, yang dibangun diatas bukit bernama Amahitu. Selain bekas masjid kuno ditemukan juga naskah alquran kuno dan naskah kuno lainnya, pucuk mustaka masjid kuno, mahkota raja, kompleks makam raja, penanggalan Islam kuno, timbangan zakat fitrah dan lain-lain (Handoko, 2006; Sahusilawane 1996). Dari data arkeologi ini dapat menggambarkan bahwa kerajaan Hitu merupakan wilayah kerajaan dengan corak budaya Islam yang kuat. Sejauh ini tidak ditemui bukti-bukti baik secara arkeologis maupun laku budaya hidup yang menunjukkan budaya Islam bercampur baur dengan budaya non Islami. Dengan kata lain, setidaknya budaya Islam yang berkembang di wilayah Hitu, sejauh ini tidak menunjukkan perbedaan yang menyolok dengan daerah pusat penyebaran Islam lainnya. Laku budaya yang ada juga lazim ditemui di daerah lain, misalnya tradisi berziarah ke makam para Raja Hitu, merupakan kegiatan yang lazim sebagaimana daerah lainnya seperti tradisi ziarah ke makam para wali di Jawa. Selain itu di desa Kaitetu, yang pada masa kerajaan merupakan salah satu daerah kekuasaaan Hitu, sampai sekarang masih berdiri kokoh Masjid Tua Keitetu yang konon dibangun pada tahun 1414 M. Selain itu juga tersimpan naskah alquran kuno, kitab barjanzi, naskah penanggalan kuno dan sebagainya. Bukti-bukti arkeologis ini menunjukkan kemapanan Islam di wilayah tersebut. Dapat dilihat bahwa penyebaran Islam di wilayah ini berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam seperti dalam hal dakwah. Di wilayah Kerajaan Hitu misalnya, sangat mungkin naskah alquran kuno merupakan bukti atau untuk media sosialisasi Islam (Handoko, 2006), begitu juga kitab barzanji, naskah hukum Islam dan penanggalan Islam kuno. Data arkeologi ini dapat mewakili gambaran kebudayaan Islam di wilayah pusat-pusat peradaban Islam yang mapan keIslamannya, seperti halnya di wilayah Maluku Utara yang diwakili terutama kerajaan Islam Ternate dan Tidore.
Sejak abad ke-13, Ternate dan juga Tidore sudah dikenal dalam kancah perdagangan dunia sebagai pusat perdagangan rempah. Berbagai saudagar yang berasal dari Arab, India, dan Tionghoa serta Persia datang ke wilayah ini untuk berdagang hingga akhirnya para pedagang dari Eropa seperti Inggris, Portugis, Belanda, dan Spanyol juga hadir di wilayah ini, khususnya untuk mencari cengkeh dan pala.
Saat itu wilayah Maluku Utara dikenal degan nama Moluku Kie Hara yang secara harfiah berarti gugusan empat pulau bergunung. Keempat pulau itu dikuasai oleh empat kesultanan yaitu Kesultanan Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan yang hingga saat ini masih berjalan. Oleh Keempat kesultanan inilah hubungan perdagangan mulai dijalin.
Desember 1511, M de Albuquerque, wakil negara Portugis yang berkedudukan di Malaka pertama kalinya mengirimkan ekspedisi tiga kapal menuju wilayah Maluku. Diikuti oleh Antonio de Abreu dan Fransesco Serrao tiba di Ternate pada tahun 1512. Pada tahun 1521, bangsa Spanyol tiba dengan Kapal Victoria dan Trinidad di Tidore.

Mulailah terjadi persaingan hingga menimbulkan perang antara Portugis dan Spanyol. Pada tahun 1522, Portugis yang dipimpin Antonio de Brito berhasil mengusir Spanyol Setelah Spanyol meninggalkan Tidore, bangsa Portugis mulai memonopoli perdagangan rempah-rempah di wilayah Ternate ini. Maka timbulah perlawanan rakyat dari keempat kesultanan dalam melawan monopoli perdagangan. Hal itu juga terjadi saat bangsa lain datang seperti Inggris dan Belanda dengan niat yang lama hingga peperangan melawan penjajah melahirkan beberapa pahlawan nasional.
Masuknya Islam ke Maluku erat kaitannya dengan kegiatan perdagangan.Pada abad ke-15, para pedagang dan ulama dari Malaka dan Jawa menyebarkan Islam ke sana. Dari sini muncul empat kerajaan Islam di Maluku yang disebut
Maluku Kie Raha (Maluku Empat Raja) yaitu Kesultanan Ternate yang
dipimpin Sultan Zainal Abidin (1486-1500), Kesultanan Tidore yang dipimpin
oleh Sultan Mansur, Kesultanan Jailolo yang dipimpin oleh Sultan Sarajati,
dan Kesultanan Bacan yang dipimpin oleh Sultan Kaicil Buko. Pada masa
kesultanan itu berkuasa, masyarakat muslim di Maluku sudah menyebar sampai
ke Banda, Hitu, Haruku, Makyan, dan Halmahera.
Kerajaan Ternate dan Tidore yang terletak di sebelah Pulau Halmahera (Maluku Utara) adalah dua kerajaan yang memiliki peran yang menonjol dalam menghadapi kekuatan-kekuatan asing yang mencoba menguasai Maluku. Dalam perkembangan selanjutnya, kedua kerajaan ini bersaing memperebutkan hegemoni politik di kawasan Maluku. Kerajaan Ternate dan Tidore merupakan daerah penghasil rempah-rempah, seperti pala dan cengkeh, sehingga daerah ini menjadi
pusat perdagangan rempah-rempah.
Wilayah Maluku bagian timur dan pantai-pantai Irian (Papua), dikuasai
oleh Kesultanan Tidore, sedangkan sebagian besar wilayah Maluku, Gorontalo,
dan Banggai di Sulawesi, dan sampai ke Flores dan Mindanao, dikuasai oleh
Kesultanan Ternate. Kerajaan Ternate mencapai puncak kejayaannya pada
masa Sultan Baabullah, sedangkan Kerajaan Tidore mencapai puncak
kejayaannya pada masa Sultan Nuku.
Persaingan di antara kerajaan Ternate dan Tidore adalah dalam perdagangan.
Dari persaingan ini menimbulkan dua persekutuan dagang, masing-masing
menjadi pemimpin dalam persekutuan tersebut, yaitu:
a.      Uli-Lima (persekutuan lima bersaudara) dipimpin oleh Ternate meliputi
Bacan, Seram, Obi, dan Ambon. Pada masa Sultan Baabulah, Kerajaan
Ternate mencapai aman keemasan dan disebutkan daerah kekuasaannya
meluas ke Filipina.
b.      Uli-Siwa (persekutuan sembilan bersaudara) dipimpin oleh Tidore meliputi
Halmahera, Jailalo sampai ke Papua. Kerajaan Tidore mencapai aman
keemasan di bawah pemerintahan Sultan Nuku.
Kerajaan-kerajaan Islam lainnya yang berkembang adalah Kesultanan
Palembang yang didirikan oleh Ki Gedeng Suro, Kerajaan Bima di daerah
bagian timur Sumbawa, dengan rajanya La Ka’i, Siak Sri Indrapura yang
didirikan oleh Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah, dan masih banyak lagi
Kerajaan Islam kecil lainnya di Indonesia.
Kerajaan TERNATE (Abad 13 M)
  • Terletak di Maluku
  • Agama Islam di sana disebarkan oleh Sunan Giri dari Gresik
  • Raja pertama Sultan Zainal Abidin
  • Raja terkenal Sultan Hairun
  • Hasil utama Ternate cengkeh dan pala
  • Peninggalan kerajaan Ternate :
1.      Istana Sulatan Ternate
2.      Benteng kerajaan Ternate
3.      Masjid di Ternate
Kerajaan TIDORE (Abad13 M)
  • Terletak di Maluku
  • Raja yang pertama Sultan Mansur
  • Raja terkenal pangeran Nuku
  • Antara Ternate dan Tidore sering terjadi peperangan untuk memperluas daerah kekuasaan
  • Ternate membentuk persekutuan yang disebut Uli Lima
  • Tidore membentuk persekutuan yang disebut Uli Siwa (persekutuan sembilan )
  • Peninggalan kerajaan Tidore :
1.      Benteng-benteng peninggalan Portugis, Spanyol
2.      Keraton Tidore
KERAJAAN TERNATE
A.    Awal Perkembangan Kerajaan Ternate
Pada abad ke-13 di Maluku sudah berdiri Kerajaan Ternate. Ibu kota Kerajaan Ternate terletak di Sampalu (Pulau Ternate). Selain Kerajaan Ternate, di Maluku juga telah berdiri kerajaan lain, seperti Jaelolo, Tidore, Bacan, dan Obi. Di antara kerajaan di Maluku, Kerajaan Ternate yang paling maju. Kerajaan Ternate banyak dikunjungi oleh pedagang, baik dari Nusantara maupun pedagang asing.

A.    Aspek Kehidupan Politik dan Pemerintahan
Raja Ternate yang pertama adalah Sultan Marhum (1465-1495 M). Raja berikutnya adalah putranya, Zainal Abidin. Pada masa pemerintahannya, Zainal Abidin giat menyebarkan agama Islam ke pulau-pulau di sekitarnya, bahkan sampai ke Filiphina Selatan. Zainal Abidin memerintah hingga tahun 1500 M. Setelah mangkat, pemerintahan di Ternate berturut-turut dipegang oleh Sultan Sirullah, Sultan Hairun, dan Sultan Baabullah. Pada masa pemerintahan Sultan Baabullah, Kerajaan Ternate mengalami puncak kejayaannya. Wilayah kerajaan Ternate meliputi Mindanao, seluruh kepulauan di Maluku, Papua, dan Timor. Bersamaan dengan itu, agama Islam juga tersebar sangat luas.

B.     Aspek Kehidupan Ekonomi, Sosial, dan Kebudayaan
Perdagangan dan pelayaran mengalami perkembangan yang pesat sehingga pada abad ke-15 telah menjadi kerajaan penting di Maluku. Para pedagang asing datang ke Ternate menjual barang perhiasan, pakaian, dan beras untuk ditukarkan dengan rempah-rempah. Ramainya perdagangan memberikan keuntungan besar bagi perkembangan Kerajaan Ternate sehingga dapat membangun laut yang cukup kuat.
Sebagai kerajaan yang bercorak Islam, masyarakat Ternate dalam kehidupan sehari-harinya banyak menggunakan hukum Islam . Hal itu dapat dilihat pada saat Sultan Hairun dari Ternate dengan De Mesquita dari Portugis melakukan perdamaian dengan mengangkat sumpah dibawah kitab suci Al-Qur’an. Hasil kebudayaan yang cukup menonjol dari kerajaan Ternate adalah keahlian masyarakatnya membuat kapal, seperti kapal kora-kora.

C.     Kemunduran Kerajaan Ternate
Kemunduran Kerajaan Ternate disebabkan karena diadu domba dengan Kerajaan Tidore yang dilakukan oleh bangsa asing ( Portugis dan Spanyol ) yang bertujuan untuk memonopoli daerah penghasil rempah-rempah tersebut. Setelah Sultan Ternate dan Sultan Tidore sadar bahwa mereka telah diadu domba oleh Portugis dan Spanyol, mereka kemudian bersatu dan berhasil mengusir Portugis dan Spanyol ke luar Kepulauan Maluku. Namun kemenangan tersebut tidak bertahan lama sebab VOC yang dibentuk Belanda untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku berhasil menaklukkan Ternate dengan strategi dan tata kerja yang teratur, rapi dan terkontrol dalam bentuk organisasi yang kuat.
KERAJAAN TIDORE
A.      Awal Perkembangan Kerajaan Tidore
Kerajaan tidore terletak di sebelah selatan Ternate. Menurut silsilah raja-raja Ternate dan Tidore, Raja Ternate pertama adalah Muhammad Naqal yang naik tahta pada tahun 1081 M. Baru pada tahun 1471 M, agama Islam masuk di kerajaan Tidore yang dibawa oleh Ciriliyah, Raja Tidore yang kesembilan. Ciriliyah atau Sultan Jamaluddin bersedia masuk Islam berkat dakwah Syekh Mansur dari Arab.
B.      Aspek Kehidupan Politik dan Kebudayaan
Raja Tidore mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Nuku (1780-1805 M). Sultan Nuku dapat menyatukan Ternate dan Tidore untuk bersama-sama melawan Belanda yang dibantu Inggris. Belanda kalah serta terusir dari Tidore dan Ternate. Sementara itu, Inggris tidak mendapat apa-apa kecuali hubungan dagang biasa. Sultan Nuku memang cerdik, berani, ulet, dan waspada. Sejak saat itu, Tidore dan Ternate tidak diganggu, baik oleh Portugis, Spanyol, Belanda maupun Inggris sehingga kemakmuran rakyatnya terus meningkat. Wilayah kekuasaan Tidore cukup luas, meliputi Pulau Seram, Makean Halmahera, Pulau Raja Ampat, Kai, dan Papua. Pengganti Sultan Nuku adalah adiknya, Zainal Abidin. Ia juga giat menentang Belanda yang berniat menjajah kembali.
C.           Aspek Kehidupan Ekonomi dan Sosial
Sebagai kerajaan yang bercorak Islam, masyarakat Tidore dalam kehidupan sehari-harinya banyak menggunakan hukum Islam . Hal itu dapat dilihat pada saat Sultan Nuku dari Tidore dengan De Mesquita dari Portugis melakukan perdamaian dengan mengangkat sumpah dibawah kitab suci Al-Qur’an.
Kerajaan Tidore terkenal dengan rempah-rempahnya, seperti di daerah Maluku. Sebagai penghasil rempah-rempah, kerajaan Tidore banyak didatangi oleh Bangsa-bangsa Eropa. Bangsa Eropa yang datang ke Maluku, antara lain Portugis, Spanyol, dan Belanda.
D.          Kemunduran Kerajaan Tidore
Kemunduran Kerajaan Tidore disebabkan karena diadu domba dengan Kerajaan Ternate yang dilakukan oleh bangsa asing ( Spanyol dan Portugis ) yang bertujuan untuk memonopoli daerah penghasil rempah-rempah tersebut. Setelah Sultan Tidore dan Sultan Ternate sadar bahwa mereka telah diadu domba oleh Portugis dan Spanyol, mereka kemudian bersatu dan berhasil mengusir Portugis dan Spanyol ke luar Kepulauan Maluku. Namun kemenangan tersebut tidak bertahan lama sebab VOC yang dibentuk Belanda untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku berhasil menaklukkan Ternate dengan strategi dan tata kerja yang teratur, rapi dan terkontrol dalam bentuk organisasi yang kuat.
sumber : http://mugiwara79.blogspot.co.id/2014/04/kerajaan-ternate-dan-tidore.html

Kerajaan Gowa dan Tallo

kerajaan-kerajaan Islam yang terdapat di Sulawesi Selatan, antara lain Bone, Gowa, Luwu, Soppeng, Tallo, dan Wajo. Tanpa mengesampingkan kerajaan lainnya, kerajaan Gowa-Tallo tercatat mempunyai peran sejarah yang cukup penting baik bagi sejarah daerah, nasional dan juga internasional yang berperan dalam perdagangan regional dan internasional. Gowa dan Tallo juga mempunyai peranan penting dalam penyebaran Islam di Sulawesi Selatan.
Gowa dan Tallo
Tome Pires (1512-1515 Masehi) ketika melakukan perjalanan ke Malaka pada tahun 1513 menceritakan bahwa orang-orang Makassar sudah berdagang hingga ke Malaka, Kalimantan, Jawa, Borneo, dan juga hampir semua tempat yang berada di antara Pahang dan Siam. Tome Pires juga mengatakan bahwa penguasa di daerah itu yang menguasai lebih dari 50 negeri masih menganut agama yang bukan islam.
Baik sumber-sumber asing maupun sumber naskah-naskah kuno menyatakan bahwa kehadiran agama islam di Sulawesi sudah ada sebelum Tome Pires datang. Tome Pires mungkin sekali menitikberatkan beritanya itu pada kerajaan Gowa dan Tallo yang memang baru memeluk islam sebagai agama resmi kerajaan pada awal abad ke-17 Masehi.
Gowa dan Tallo merupakan negeri yang kaya akan beras putihnya dan juga kapur barus. Negeri ini juga aktif dalam perdagangan internasional dan telah mengimpor barang dagangan dari luar negeri mereka; seperti pakaian dari Bengal, Cambay dan Keling serta keramik-keramik dari Tiongkok. Selain itu, Kerajaan ini telah aktif berdagang dengan negeri-negeri di kepulauan Malaka. Pada akhir abad ke-16 pedagang-pedagang muslim dari berbagai tempat dan juga para pedagang asing dari negeri-negeri di Eropa telah ramai mendatangi wilayah kerajaan ini.
Gowa-Tallo sebelum menjadi kerajaan yang bercorak Islam kabarnya sering berperang dengan kerajaan lainnya yang berada di Sulawesi Selatan, misalnya dengan Bone, Luwu, Soppeng, dan Wajo. Sejak Gowa-Tallo resmi menjadi kerajaan Islam pada tahun 1605 M, Islam menjadi alasan yang kuat untuk meluaskan lagi kekuasaan dengan tujuan islamisasi; agar kerajaan-kerajaan lainnya selain tunduk pada kerajaan Gowa-Tallo juga harus menjadikan Islam sebagai agama mereka. Wajo berhasil ditaklukan pada tanggal 10 Mei 1610 sedangkan kerajaan Bone berhasil dikuasai tanggal 23 November 1611 Masehi. Islam di kerajaan Gowa-Tallo selain telah menyebabkan runtuhnya kerajaan yang mejadi musuh Kerajaan Gowa-Tallo, juga telah berhasil membawa kerajaan tersebut kepada masa-masa kejayaan.
“Kediaman Raja Gowa, 1870”. Foto dari Tropenmuseum
“Kediaman Raja Gowa, 1870”. Foto dari Tropenmuseum
Pada masa pemerintahan raja-raja selanjutnya, meskipun kerajaan Gowa-Tallo ini bercorak Islam, akan tetapi diberitakan adanya hubungan baik dengan bangsa Portugis yang datang dengan membawa agama Kristen-Katolik. Kerajaan ini bahkan memberi bantuan dan menanam sahah dalam perdagangan orang-orang Portugis (Francisco Viera yang menjadi utusan kerajaan Gowa ke Batavia dan Banten). Hubungan erat Gowa-Tallo dengan orang Portugis dalam bidang perdagangan ini mungkin disebabkan adanya ancaman dari VOC Belanda yang berusaha memonopoli perdagangan rempah-rempah Maluku.
Awal Kontak dengan Islam
Penyebaran Islam di Nusantara selalu dikaitkan dengan jalur perdagangan. Penyebaran Islam yang dilakukan para pedagang bisa dimungkinkan karena merekalah yang telah dan akan pergi ke berbagai penjuru bumi. Selain itu, di dalam ajaran Islam, meskipun pada perkembangannya ada kelompok-kelompok yang secara khusus menjadi penyebar agama, tetapi setiap orang memiliki kewajiban yang sama untuk berdakwah. Setiap Muslim, apapun kedudukan dan profesinya mereka dituntut untuk dapat menyampaikan ajaran Islam walaupun hanya satu ayat al-Quran.
Proses islamisasi di Sulawesi Selatan Menurut M. Swang (2005) tidak memiliki perbedaan dengan Islamisasi daerah-­daerah lainnya di Nusantara, yaitu melalui tiga tahapan yang dikembangkan oleh Noorduyn yaitu: kedatangan Islam, penerimaan, dan penyebarannya. H.J. de Graaf lebih jauh melihat proses islamisasi di Asia Tenggara berdasarkan pada literatur Melayu, bahwa menurutnya Islamisasi yang terjadi di Asia Tenggara memang melalui tiga metode namun metode-metode itu berlangsung secara kronologis yaitu: oleh para pedagang dalam proses perdagangannya yang damai, oleh para wali dan orang suci yang telah datang dari India dan juga negeri-negeri Arab lainnya yang memang bertujuan untuk mengislamkan, dan terakhir dengan jalan kekerasan yang memaklumkan terjadinya perang bagi kerajaan-kerajaan yang dianggap penyembah berhala.
Pedagang Muslim mungkin sudah tiba di Sulawesi sejak akhir abad ke-15 Masehi akan tetapi belum diperoleh keterangan pasti tentang terjadinya Islamisasi yang terjadi pada wilayah istana seperti halnya yang terjadi pada agam Kristen-Katolik. Antonio de Payva yang tiba di Sulawesi Selatan tahun 1542 Masehi, menyebut bahwa saat melakukan misi Katolik, ia mendapati rintangan dari orang-orang muslim Melayu yang sudah menetap di wilayah itu kurang lebih selama 50 tahun.
Baik berita atau catatan dari Portugis dan Sumber-sumber lokal menyatakan bahwa pada awal abad ke-16 pedagang Melayu Islam sudah menetap dan melakukan aktivitas perdagangan di wilayah ini. Kemungkinan mereka telah melakukan migrasi ke Sulawesi dan bermukim di Makassar dan tempat-tampat lainnya di pesisir barat daya Sulawesi setelah Malaka jatuh ke kekuasaan Portugis tahun 1511 Masehi.
Sumber lokal yang memberitakan keberadaan orang-orang Melayu ini adalah Lontara Makassar. Dalam Pattorioloanga ri Togowaya (Lontara Sejarah Gowa) didapati keterangan pada masa raja yang memerintah Gowa yaitu Raja Tonipalangga I (1546-1565) yang merupakan raja Gowa ke-10, datang menghadap utusan orang-orang Melayu bernama Datuk Anakkoda Bonang yang meminta diberi hak untuk kawasan perkampungan di Makassar. Kabarnya mereka kemudian diizinkan untuk menempati daerah-daerah di sekitar pelabuhan Somba Opu tepatnya di Kampung Mangallekana.
Hubungan yang baik antara pendatang Melayu dengan kerajaan beserta penduduk setempat kemudian terjalin. Raja Gowa Tonijallo (1565-1590) bahkan membangunkan tempat ibadah (masjid) di wilayah pemukiman mereka. Peranan orang-orang Melayu cukup besar terutama dalam bidang perdagangan serta penyebaran Islam yang disertai dengan upaya untuk membendung pengaruh Kristen-Katolik. Hingga tahun 1615, jalannya perekonomian dan perdagangan antara pulau melalui pelabuhan Makassar, secara tidak langsung dikuasai oleh orang Melayu bahkan komoditas beras sebagai hasil utama wilayah Makassar ini diekspor ke Malaka menggunakan kapal-kapal Melayu.
Gowa-Tallo Menjadi Kerajaan Islam
Sumbangsih orang-orang Melayu dalam konteks penyebaran Islam selain membendung misionaris-misionaris Portugis adalah ikut andil dalam mengundang mubaligh­-mubaligh Islam untuk mengislamkan kalangan istana Gowa-Tallo. Kedatangan para Muballigh dari Koto Tengah, Minangkabau pada awal abad ke-17 disebutkan dalam Lontara Wajo.
Para Mubaligh yang disebut Dato Tallu (Tiga Datuk) atau Datuk Tellue dalam bahasa Bugis dan atau disebut Datuk Tallua dalam bahasa Makassar; Dato’ri Bandang (Abdul Makmur atau Khatib Tunggal), Dato’ri Pattimang (Datuk Sulaiman atau Khatib Sulung), Dato’ri Tiro (Abdul Jawad atau Khatib Bungsu).
Graaf dan Pigeaud menyatakan bahwa Dato’ri Bandang sebelum ke Makassar ia terlebih dahulu belajar di Giri. Ketiga mubaligh ini juga tidak langsung melaksanakan dakwahnya, tetapi lebih dahulu mempelajari kebudayaan sekitar. Mereka kemudian berangkat ke Kerajaan Luwu menemui Datuk Luwu, La Patiware Daeng Parabu, raja yang sangat dihormati, karena kerajaannya dianggap sebagai kerajaan tua, tempat asal raja-raja Sulawesi Selatan. Mereka juga mendapat informasi bahwa raja yang paling berpengaruh adalah Raja Tallo dan Raja Gowa.
Ketiga Mubaligh inilah yang mengislamkan raja Luwu, Yaitu Dati’ La Patoware’ Daeng Parabung yang bergelar Sultan Muhamad pada tanggal 15-/16 Ramadhan 1013 H (4/5 Februari 1605). Kemudian disusul oleh raja Gowa dan Tallo, Karaeng Matowaya dari Tallo, I Mallingkang Daeng Manyonri (Karaeng Tallo) tanggal 9 Jumadil Awal 1014 H (22 September 1905 M) dengan gelar Sultan Abdullah. Selanjutnya Karaeng Gowa I Manga’ rangi Daeng Manrabbia pada tanggal 19 Rajab 1016 H (9 November 1607 M).
Kerajaan Gowa-Tallo resmi menjadi kerajaan yang bercorak Islam di Gowa-Tallo. Kurang lebih dua tahun sesudahnya, rakyat Gowa dan Tallo sudah banyak yang memeluk agama Islam.
Penyebaran Islam oleh Kerajaan Gowa-Tallo
Semenjak Islam menjadi agama resmi di Kerajaan Gowa-Tallo, raja Gowaberikutnya yaitu Sultan Alauddin semakin kuat dalam kedudukannya dikarenakan beliau juga diakui sebagai “Amirul Mukminin” atau kepala agam Islam. Raja ini juga dinilai aktif dalam menyebarkan agama islam.
Pendekatan Sultan Alauddin dalam menyebarkan Islam adalah dengan mengingatkan kembali perjanjian “persaudaraan lama” Gowa dengan wilayah taklukan dan kerajaan sahabat. Kerajaan Gowa kemudian meminta kepada raja-raja yang berkuasa itu untuk turut memeluk Islam. Pendekatan seperti ini tidak sepenuhnya berhasil karena kerajaan-kerajaan yang telah merasa sudah berdaulat dibidang pemerintahan. Beberapa kerajaan kecil di wilayah sekitar Gowa umumnya memenuhi seruan agar memeluk Islam, tetapi kerajaan di wilayah Bugis dan Mandar seperti Bone, Balannipa, Sawitto, Soppeng, Sidenreng, Suppak, Wajo, dan juga beberapa kerajaan lainnya menolak ajakan tersebut.
Kepada yang menolak kabarnya Sultan Alaudin mengirimi peringatan. Dengan alasan mereka terus menolak dan membangkang, maka Kerajaa Gowa konon dengan terpaksa harus mengangkat senjata memerangi mereka. Tercatat hampir empat kali Raja mengirim balatentaranya untuk menundukan kerajaan-kerajaan yang menolak, akan tetapi serangan Kerajaan Gowa itu berhasil dihalau karena raja-raja yang menolak membuat aliansi yang cukup terutama Kerajaan Bone, Soppeng dan Wajo.
Pada tahun 1609, Raja kembali mengirimkan angkatan perang kerajaan Gowa yang terlatih dan tangguh ke daerah pedalaman. Mula-mula ke wilayah Ajatappareng; Rapang, Sawitto, Sidenreng, Suppak. Wilayah-wilayah itu tunduk dan kemudian menerima agama Islam. Kerajaan Soppeng juga berhasil ditaklukan pada tahun yang sama. Kerajaan Wajo pada tahun 1610 berhasil diislamkan, dan kemudian pada tahun 1611 menyusul Kerajaan Bone. Pengislaman di seluruh Sulawesi selatan berhasil dijalankan oleh kerajaan Gowa-Tallo dari tahun 1605-1612 Masehi.
Perkembangan agama islam di daerah Sulawesi Selatan mendapat tempat sebaik-baiknya bahkan ajaran Sufisme Khalwatiyah dari kaum Syeikh Yusuf al-Makasari juga tersebar di kerajaan Gowa dan kerajaan lainnya pada pertengahan abad ke-17 Masehi. Akan tetapi, karena banyaknya tantangan dari kaum bangsawan Gowa, ia meninggalkan Sulawesi Selatan pergi ke Banten yang kemudian diterima oleh Sultan Ageng Tirtayasa.

sumber:  http://www.wacananusantara.org/islam-di-kerajaan-gowa-tallo-jejak-islam-di-sulawesi/

Kesultanan Banten

Sejarah Kerajaan Banten: Kehidupan Politik, Ekonomi, & Sosial-Budaya

Kerajaan / Kesultanan Banten ~ Berdirinya kerajaan ini atas inisiatif Sunan Gunung Jati pada 1524, setelah sebelumnya mengislamkan Cirebon. Awalnya, Banten merupakan bagian dari wilayah Pajajaran yang Hindu, namun setelah Demak berhasil menghalau pasukan Portugis di Batavia, Banten pun secara tak langsung berada di bawah kekuasaan Demak. Semasa Sunan Gunung Jati, Banten masih termasuk kekuasaan Demak. Pada tahun 1552, ia pulang ke Cirebon dan Banten diserahkan kepada anaknya, Maulana Hasanuddin. Nah, pada kesempatan kali ini Zona Siswa akan mencoba menghadirkan penjelasan mengenai Sejarah Kerajaan Banten dari segi politik, ekonomi, dan sosial-budaya. Semoga bermanfaat. Check this out!!!

A. Kehidupan Politik

Sultan pertama Kerajaan Banten ini adalah Sultan Hasanuddin yang memerintah tahun 1522-1570. Ia adalah putra Fatahillah, seorang panglima tentara Demak yang pernah diutus oleh Sultan Trenggana menguasai bandarbandar di Jawa Barat. Pada waktu Kerajaan Demak berkuasa, daerah Banten merupakan bagian dari Kerajaan Demak. Namun setelah Kerajaan Demak mengalami kemunduran, Banten akhirnya melepaskan diri dari pengaruh kekuasaan Demak.

Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis (1511) membuat para pedagang muslim memindahkan jalur pelayarannya melalui Selat Sunda. Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, Kerajaan Banten berkembang menjadi pusat perdagangan. Hasanuddin memperluas kekuasaan Banten ke daerah penghasil lada, Lampung di Sumatra Selatan yang sudah sejak lama mempunyai hubungan dengan Jawa Barat. Dengan demikian, ia telah meletakkan dasar-dasar bagi kemakmuran Banten sebagai pelabuhan lada. Pada tahun 1570, Sultan Hasanuddin wafat.

Penguasa Banten selanjutnya adalah Maulana Yusuf (1570-1580), putra Hasanuddin. Di bawah kekuasaannya Kerajaan Banten pada tahun 1579 berhasil menaklukkan dan menguasai Kerajaan Pajajaran (Hindu). Akibatnya pendukung setia Kerajaan Pajajaran menyingkir ke pedalaman, yaitu daerah Banten Selatan, mereka dikenal dengan Suku Badui. Setelah Pajajaran ditaklukkan, konon kalangan elite Sunda memeluk agama Islam.

Maulana Yusuf digantikan oleh Maulana Muhammad (1580-1596). Pada akhir kekuasaannya, Maulana Muhammad menyerang Kesultanan Palembang. Dalam usaha menaklukkan Palembang, Maulana Muhammad tewas dan selanjutnya putra mahkotanya yang bernama Pangeran Ratu naik takhta. Ia bergelar Sultan Abul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir. Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa putra Pangeran Ratu yang bernama Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682). Ia sangat menentang kekuasaan Belanda.Usaha untuk mengalahkan orang-orang Belanda yang telah membentuk VOC serta menguasai pelabuhan Jayakarta yang dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa mengalami kegagalan. Setelah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten mulai dikuasai oleh Belanda di bawah pemerintahan Sultan Haji.

Sejarah Kerajaan Banten | www.zonasiswa.com
Masjid Agung Banten ~ Salah satu peninggalan Kerajaan/Kesultanan Banten

B. Kehidupan Ekonomi

Banten di bawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa dapat berkembang menjadi bandar perdagangan dan pusat penyebaran agama Islam. Adapun faktor-faktornya ialah: (1) letaknya strategis dalam lalu lintas perdagangan; (2) jatuhnya Malaka ke tangan Portugis, sehingga para pedagang Islam tidak lagi singgah di Malaka namun langsung menuju Banten; (3) Banten mempunyai bahan ekspor penting yakni lada.

Banten yang menjadi maju banyak dikunjungi pedagang-pedagang dari Arab, Gujarat, Persia, Turki, Cina dan sebagainya. Di kota dagang Banten segera terbentuk perkampungan-perkampungan menurut asal bangsa itu, seperti orang-orang Arab mendirikan Kampung Pakojan, orang Cina mendirikan Kampung Pacinan, orang-orang Indonesia mendirikan Kampung Banda, Kampung Jawa dan sebagainya.

C. Kehidupan Sosial-budaya

Sejak Banten di-Islamkan oleh Fatahilah (Faletehan) tahun 1527, kehidupan sosial masyarakat secara berangsur- angsur mulai berlandaskan ajaran-ajaran Islam. Setelah Banten berhasil mengalahkan Pajajaran, pengaruh Islam makin kuat di daerah pedalaman. Pendukung kerajaan Pajajaran menyingkir ke pedalaman, yakni ke daerah Banten Selatan, mereka dikenal sebagai Suku Badui. Kepercayaan mereka disebut Pasundan Kawitan yang artinya Pasundan yang pertama. Mereka mempertahankan tradisi-tradisi lama dan menolak pengaruh Islam

Kehidupan sosial masyarakat Banten semasa Sultan Ageng Tirtayasa cukup baik, karena sultan memerhatikan kehidupan dan kesejahteran rakyatnya. Namun setelah Sultan Ageng Tirtayasa meninggal, dan adanya campur tangan Belanda dalam berbagai kehidupan sosial masyarakat berubah merosot tajam. Seni budaya masyarakat ditemukan pada bangunan Masjid Agung Banten (tumpang lima), dan bangunan gapura-gapura di Kaibon Banten. Di samping itu juga bangunan istana yang dibangun oleh Jan Lukas Cardeel, orang Belanda, pelarian dari Batavia yang telah menganut agama Islam. Susunan istananya menyerupai istana raja di Eropa.
 
sumber:  http://www.zonasiswa.com/2015/06/sejarah-kerajaan-banten-kehidupan.html

AWAL BERDIRINYA KERAJAAN CIREBON PADA MASA INDONESIA MADYA

1. Letak Kerajaan Cirebon Semula Cirebon termasuk dalam daerah kekuasaan kerajaan Sunda Pajajaran, bahkan menjadi salah satu kota pelabuhan kerajaan tersebut (Tim Penulis Nasional Sejarah Indonesia , 2010 : 59 ). Pelabuhan ini sudah ramai dari perahu pedagang-pedagang luar negeri. Pedagang-pedagang itu antara lain dari arab, persi, malaka, cina, dll. Letak Kerajaan Cirebon secara geografis di pesisir pantai pulau Jawa, merupakan mata rantai dalam jalan perdagangan internasional pada waktu itu yang antara lain membentang dari kepulauan Maluku hingga teluk Parsi (jagad pustaka : 2013). Pedagang yang datang dari berbagai pulau bahkan berbagai Negara. Tidak heran heran jika pada wilayah ini menjadi jalur perdagangan yang ramai. Melalui jalan perdagangan dapat mengalir pula arus kebudayaan dan keagamaan, dan konon menurut cerita orang jalan perdagangan itupun memegang peranan penting dalam proses penyebaran agama Islam di pulau Jawa (jagad pustaka : 2013). Karena banyak pedagang yang datang, salah satunya dari Arab. Pedagang- pedagang dari Arab itu selain datang untuk berdagang, mereka juga menyebarkan Agama Islam. 2. Awal Mula Berdirinya Kerajaan Cirebon Pada tahun 1302 cirebon mempunyai 3 daerah otonom di bawah kekuasaan kerajaan Pajajaran yang masing-masing di kuasai oleh seorang Mangkubumi (Sulendraningrat , 1978 : 16). 3 daerah otonom itu adalah Singapura atau Mertasinga yang dikepalai oleh Mangkubumi Singapura. Daerah Pesambangan yang dikepalai oleh Ki Ageng Jumajan Jati. Dan Daerah Japura yang dikepalai oleh Ki Ageng Japura. Ketiga daerah otonom tersebut masing-masing mengirimkan upeti setiap tahunnya kepada kerajaan Pajajaran (Sulendraningrat , 1978 : 16). Semula Cirebon termasuk dalam daerah kekuasaan kerajaan Sunda Pajajaran, bahkan menjadi salah satu kota pelabuhan kerajaan tersebut (Tim Penulis Nasional Sejarah Indonesia , 2010 : 59 ). Sekitar tahun 1513 cirebon ini tidak lagi dibawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran, namun sudah di beritakan masuk ke dalam daerah jawa di bawah kekuasaan Kerajaan Demak. Saat itu Cirebon di kuasai oleh Lebe Usa Syarif Hidayatullah atau yang sering di kenal dengan Sunan Gunung Jati telah datang di Cirebon pada tahun 1470. Syarif Hidayatullah datang untuk mengajarka agama Islam. Syarif Hidayatullah mengajarkan agama Islam di Gunung Sembung. Syarif Hidayatullah adalah putra dari wanita asal Galuh, Caruban. Wanita tersebut adalah NhayLara Santang yaitu adik dari Pangeran Cakrabuana pemimpin Cirebon. Syarih Hidayatullah Mengajarkan agama islam ditemanni dengan uaknya Haji Abdullah Iman dan pangeran Cakrabumi atau pangeran Cakrabuana. Haji Abdullah Iman dan Pangeran Cakrabuana sudah lebih dahulu berada atau tinggal di Cirebon. Syarif Hidayatullah menikah dengan Pakung Wati. Pakung Wati adalah putri dari Uaknya. Syarif Hidayatullah menggantikan mertuanya sebagai penguasa Cirebon pada tahun 1479. Setelah menikah dan menjadi penguasa Cirebon, Syarif Hidayatullah membangun atau mendirikan sebuah kraton. Karaton itu diberi nama Kraton Pakung Wati. Kraton Pakung Wati terletak disebalah timur Kraton Sultan Kesepuluhan sekarang ini. Syarif Hidayatullah ini terkenak dengan Gelar Gusuhunan Jati atau sering dikenal dengan Sunan Gunungjati. Syarif Hidayatullah menjadi saleh seorang dari Wali Sanga. Syarif Hidayatullah mendapat Julukan Pandita Ratu sejak ia berfungsi sebagai penyebar Agama Islam di tanah Sunda dan Sebagai Kepala Pemerintahan (Tim Penulis Nasional Sejarah Indonesia , 2010 : 59 ). Semenjak Syarif Hidayatullah menjadi penguasa di Cirebon, Cirebon menghentikan upeti ke pusat Kerajaan Pajajaran di pangkuan. Sejak saat itulah Cirebon menjadi Kerajaan yang dikepalai oleh Syarif Hidayatullah.

Masa Kejayaaan Kerajaan Cirebon

Kerajaan Cirebon berada pada puncak kejayaan ketika dipimpin oleh Syarif Hidayatullah. Syarif Hidayatullah putra wanita asal Galuh-Caruban yaitu Nhay Lara Santang adik dari Pangeran Cakrabuwana pemimpin Caruban yang menikah dengan Mauana Sultan Muhammad. Ketika Syarif Hidayat berusia duapuluh tahun, ia pergi ke Makkah berguru kepada Syeh Tajamudin Al ubri, di sini ia tinggal selama dua tahun, setelah tamat dari Syeh Tajamudin kemudian Syarif Hidayat, meneruskan pelajaran kepada Syeh Ataillah Syazalli, masih di Mekkah juga selama dua tahun (Sunardjo, 1983:51). Ketika Cirebon mengalami kejayaan pada masa Syarif Hidayatullah sudah tidak diragukan lagi, karena pengalaman ilmu yang didapat sangat luar biasa. Itu dapat kita lihat dari beliau mempunyai dua guru besar yang ada di Mekkah. Syarif hidayatullah juga pernah belajar Tasawuf di Bagdad. Beliau di Bagdad beliau belajar tasawuf selam dua tahun. Kemudian beliau kembali ke negerinya yaitu Oqnah Yutra. Kemudain beliau memutuskan untuk pergi ke Jawa karena beliau ingin menjadi mubaligh di Jawa. Dalam perjalanannya ke pulau Jawa Syarif Hidayatullah sempat singgah di Gujarat. Setelah dari Gujarat, Srarif Hidayat singgal dan tinngal pula di Samudera Pasai, sebuah tempat di Aceh yang pada masa itu sudah merupakan Kerajaan Islam yang cukup besar karena sudah berdiri sejak 1296 (Sunardjo, 1983:52). Mungkin saja ketika di Samudra Pasai Syarif Hidayatullah sedikit banyak belajar tentang pemerintahan Islam. Karena beliau juga tinggal beberapa waktu di Samudera Pasai. Jadi tidak heran lagi ketika beliau menjadi pemimpin di Cirebon dapat membawa pada kejayaan. Kemudian Syarif Hidayatullah melanjutkan perjalannanya ke Banten, kemudian ke Ampel. Ada bebrapa versi mengapa Syarif Hidayatullah pergi ke Ampel. Setelah dari Ampel, kemudain beliau mejunu Cirebon untuk menyiarkan agama Islam atas perintah dari para wali. Menurut Kitab Purwaka Caruban dalam bukunya R.H. Unang Sumardjo SH dijelaskan bahwa: Syarif Hidayatullah mendirikan pesantren di Dukuh Sembung masuk wilayah Pasambangan juga mengajar agama Islam di ampung Badaban (kurang lebih 3 Km arah Barat dari Pasambangan). Dari keterangan diatas dapat dipastikan bahwa kehadiran Syarif Hidayatullah di Cirebon sudah dapat diterima oleh pribumi Cirebon itu sendiri. Karena mustahil ketikan kedatangan Syarif Hidayatullah di Cirebon kemudian mendirikan pesantren tidak mendapatkan persetujuan pribumi Cirebon. Disisi lain komunikasi yang digunakan oleh Syarif Hidayatullah dapat diterima oleh pribumi Cirebon. Disisi lain Syarif Hidayatullah merupakan keponakan dari Pangeran Cakrabuwana pemimpin Caruban. Jadi kalau hanya mendirikan pesantren di Cirebon menjadi hal yang mudah bagi Syarif Hidayatullah. Namun demikian, kemungkina Syarif Hidayatullah mengajukan usul agar dalam tahun-tahun pertamanya di Cirebon diberi kesempatan untuk menjadi pendidik/guru dahulu sesuai keputusan para wali, sebagai pengganti Syeh Datuk Kahfi (Sunardjo, 1983:55). Ini dilakaukan Syarif Hidayatullah supaya dapat mempelajari tentang masyarkat Cirebon itu sendiri. Mengapa yang dipilih mendirikan pesantren, dikarenakan yang pertama adalh keinginan dari Syarif Hidayatullah unuk menjadi mubaligh dipulau Jawa yang juga dipertegas dengan titah dari para wali untuk mensyiarkan Islam di tanah Sunda. Selain itu, ketika Syarif hidayatullah menjadi pemimpin pesatren, beliau dapat mempelajari tentang nilai-nilai ataupun pola kehidupan masyarakat Cirebon. Diperkirakan pada suatu waktu ada beberapa orang dari Banten yang sengaja datang ke Pasambangan menemui Syeh Jati (yang sudah dikenal di Banten karena pernah tinggal di sini beberapa waktu lamanya setibanya dari Samudera Pasai), dan mengajukan permohonan kepada Syeh jati untuk memberikan pelajaran Agama Islam di Banten (Sunardjo, 1983:57). Kemungkinan juga sepak terjang dari Syarif Hidayatullah sundah tersebar luas kabarnya sampai ke Banten. Karena pada waktu Syarif Hidayatullah berada di Banten setelah dari Samudera Pasai, beliau tinggal tidak lama. Ketika berada di Banten, Syarif Hidayatullah diminta untuk segera kembali ke Cirebon oleh Pangeran Cakrabuwana. Karena kehadiran dan tenaganya sangant dibutuhkan di Cirebon. Ternyata Pangeran Cakranuwana sudah lama mempunyai rencana dan ingin cepat merealisasikan rencananya itu untuk menobatkan Syarif Hidayatullah sebagai penguasa di nagari Caruban menggantikan dirinya (Sunardjo, 1983:59). Yang menjadi pertanyaan adalah menganpa Pengeran Cakrabuwana memilih Syarif Hidayatullah untuk menggantikan dirinya. Disini penulis sulit menemukan sumber yang relevan mengenai masalah itu. Yang pasti bahwa alasan mengangkat Syarif Hidayatullah menjadi pengganti Pangeran Cakrabuwana tidak slah. Karena sudah jelah mengenai track record dari Syarif Hidayatullah. Karena juga Syarif Hidayatullah merupaka keponakan dari Pangeran Cakrabuwana. Penobatan Syarif Hidayatullah menjadi Tumenggung di Cirebon merupakan era baru bagi Cirebon. Beliaulah yang mengganti nama Cirebon yang dulunya adalah Caruban, dan diganti dengan Cerbon dan terus berkembang menjadi Cirebon. Masa kejayaan kerajaan Cirebon di awali dari perkembangan Islam. Pada masa Syarif hidayatullah Islam berkembang dengan pesat. Sudah tidak kaget lagi ketika Islam mengalami perkembangan yang pesat. Memang tujuan utama Syarif Hidayatullah ke pulau Jawa adalah menjadi mubaligh untuk menyiarkan Islam. Disisi lain gaya komunikasi yang digunakan sehingga dapat membius pribumi Cirebon untuk masuk Islam. Silsilah dari Syarif Hidayatullah juga yang dapat dengan mudah menjadi keyakinan pribumi beliau, yaitu cucu dari Prabu Siliwangi. Kejayaan kerajaan Cirebon tidak lepas dari campur tangan Pangeran Cakrabuwana. Menurut perkiraan beberapa waktu sebelum penobatan, syarif Hidayatullah dengan Pangeran Cakrabuwana telah membicarakan tentang berbagai konsep pembangunan negara serta beberapa rencana operasional (Sunardjo, 1983:60). Sudah pasti Syarif hidayatullah melaksanankan konsep-konsep yang telah dirancang bersama dengan Pangeran Cakrabuwana. Berdasarkan perkiraan dengan memperhatikan temuan-temuan dilapangan dan uraian-uraian dalam itab Purwaka Caruban Nagari yang tertulis dalam bukunya Unang Sunadjo menyebutkan bahwa: azaz pemerintahandi wilayah Cirebon adalah berazaz desentralisasi. Sedangkan polanya yang utama adalah pola pemerintahan kerajaan di pesisir, di mana pelabuhan menjadi bagian yang sangat penting dan pedalaman menjadi penunjang yang sangat vital. Dari uraian diatas dapat di ambil inti sari bahwa hubungan antara daerah pesisir yaitu pelabuhan, dengan daerah pedalaman (sektor pertanian dan pemasaran) saling berkaitan. Komoditi-komoditi yang masuk dari pelabuhan dibawa ke daerah pedalaman untuk dijual. Begitu juga ketika komoditi dari sektor pertanian akan di ekspor melewati pelabuhan. Pada masanya, bidang politik, keagamaan, dan perdagangan, makin maju. Pada masa itu terjadi penyebaran Islam ke Banten (sekitar 1525-1526) dengan penempatan putra Syarif Hidayatullah , yaitu Maulana Hasanuddin, setelah meruntuhkan pemerintahan Pucuk Unum, penguasa kadipaten dari kerajaan Sunda Pajajaran yang berkedudukan di Banten Girang. Setelah Islam, pusat pemerintahan Maulana Hasanuddin terletak di Surowan dekat muara Cibanten (Tjandarsasmita, 2009:164) Sudah jelas bahwa Syarif Hidayatullah memperluas wilayah dengan penyerangan daerah-daerah kecil untuk menyabarkan Islam. Ini penting untuk dilakukan supaya Islam dapat tersebar dengan cepat. Upaya ini juga untuk mendapatkan pengaruh yang kuat dari wilayah-wilayah lain di Jawa bagian barat. Pada suatu ketika Syarif Hidayatullah pergi ke Demak untuk membantu membangun masjid Demak. Syarif Hidayatullah menyumbang tiang masjid yang sekarang dikenal dengan Saka Guru. Ketika merujuk dari sumbangsi Syarif Hidayatullah dalam pembangunan masjid Demak, ini merupakan salah satu strategi dari Syarif Hidayatullah dalam melakukan hubungan abatar kerajaan. Karena pada waktu itu di Demak juga berdiri kerajaan yang besar dibawah pimpinan Raaden Patah. Hubungan ini dilakukan supaya eksistensi dari Cirebon dapat terjaga. Ketika berada di Demak dan juga para wali berkumpul, mungkin Syarif Hidayatullah menyempatkan untuk membahas maslah-masalah kerajaan-kerajaan yang masih belum terdapat agama Islam. Setibanya di Cirebon, Syarif Hidayatullah mengadakan rapat yang menghasilkan kebijakan politik, sikap politik kerajaan Cirebon terhadap kerajaan Pajajaran yaitu tidak bersedia lagi mengirim upeti (bulubhekti) kepada Pajajaran yang disalurkan melalui Adipati Galuh (Sunardjo, 1983:67). Sikap ini secara tidak langsung Cirebon menyatakan kemerdekaannya. Karena sudah melepaskan diri dari Pajajaran dengan cara tidak lagi mengirim upeti. Ketika kita melihat kembali silsilah dari Syarif Hidayatullah, penguasa Pajajran pada waktu itu adalah Prabu Siliwangi, yaitu kakeknya sendiri. Tindakan ini awalnya mendapat respon keras dari Prabu Siliwangi, akan tetapi kemudian Prabu Siliwangi seakan-akan membiarkan keputusan yang diambil oleh Syarif Hidayatullah. Karena Prabu Siliwangi menghindari perang saudara. Mungkin juga dikarenakan hubungan antara Cirebon dengan Demak yang semakin erat. Sehingga Prabu Siliwangi tidak dapat mengambil sikap keras. Sejak Syarif Hidayatullah bandar Cirebon makin ramai baik untuk berhubungan laut antar Persi-Mesir dan Arab, Cina, Campa dan lainnya (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997:62). Keraimain di bandar Cirebon sudah menjadi bukti nyata kebesaran Cirebon dikancah internasional. Terbukti dengan banyaknya pedagang dari berbagai negara. Ketika bandar Cirebon pada puncak keramaiannya, pasti ada halangan. Mungkin dari bajak laut ataupun yang lain. Susuhunan Jati segera mengirim pasukan menumpas Bajak Laut ini dengan menyeran pangkalannya. Pasukan Cirebon yang berkekuatan dua ribu tjuh ratu orang dipimpin oleh Dipati Keling (Sunardjo, 1983:68). Tindakan ini sangat dibutuhkan untuk menjaga keamanan bandar Cirebon. Apabila Syarif Hidayatullah tidak mengambil tindakan tegas, maka bandar Cirebon dalam bahaya yang berakibat bandar menjadi sepi. Pada tahun 1527 pasukan Demak di bawah pimpina Faletehan dengan bantuan pasukan Cirebon, Dipati eling, dan Dipati Cangkuang berhasil menaklukan Sunda Kelapa, sejak itu namanya diganti dengan Jayakarta dan Faletehan diangkat sebagai kepala pemerintah yang pertama (Kosoh dkk. 1979:82). Ketika pemimpin suatu daerah Islam, maka masyarakat yang berada di wilayah itu juga memeluk Islam. Begitu juga dengan Jayakarta, Faletehan segera meng-Islamkan masyarakat Jayakarta. Sehingga masyarakat pesisir utara Jawa sudah memeluk Islam. Dengan masuknya bandar-bandar kerajaan Pajajaran seperti Banten tahun 1526, Kalapa, tahun 1527 maka seluruh utara Jawa Barat telah ada dalam kekeuasaan Islam (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997:63). Akibat keadaan seperti ini maka bandar-bandar termasuk Cirebon menjadi tempat perdagangan internasinal. Sebagai mana lazimnya pada masi itu, maka setelah dicarikan waktu yang tepat Susuhunan Jati mengeluarkan keputusan untuk membangun sebuah mesjid yang besar sebagaimana halnya di Demak (Sunardjo, 1983:74). Dengan demikian sudah jelas bahwa Cirebon dibawah kepemimpina Syrif Hidayatullah yang juga seorang wali berhasil mempercepat perkembangan Cirebon sebagai syiar Islam dan juga perdagangan. Seperti yang dijelaskan oleh RH Unang Sunardjo dalam bukunya yang menjelaskan: 1. Telah terpenuhinya prasarana dan sarana pisik essensial pemerintahan dan ekonomi dalam ukuran suatu Kerajaan Pesisir. 2. Telah dikuasainya daerah-daerah belakang (hinterland) yang dapat diharapkan mensuplay bahan pangan termasuk daerah penghasil garam, daerah yang cukup vital bagi income nagari pesisir dengan luas yang memadai. 3. Telah adanya sejumlah pasukan lasykar dengan semangat yang tinggi, yang dipimpin oleh para panglima (dipati-dipati) yang cukup berwibawa dan bisa dipercaya loyalitasnya. 4. Adanya sejumlah penasehat-penasehat baik dibidang pemerintahan maupun agama. 5. Terjalinnya hubungan antar negara yang sangat erat antar Cirebon dengan Demak. 6. Mendapat dukungan penuh dari para wali. 7. Tidak terdapat indikasi tentang ancaman Prabu Siliwangi untuk menghancurkan eksistensi cirebon. Dari uraian diatas dapat dijadikan acuan bahwa Cirebon pada masa Syarif Hidayatullah berada dalam kejayaannya. Sunan Gunung Jati wafat pada tahun 1568 dan dimakamkan di Bukit Sembung yang juga dikenal dengan makam Gunung Jati (Tim Nasional Penulisan Sejarah Indonesia. 2010:60). Kemudian digantikan oleh Panembahan Ratu putra Pangeran Suwarga.

Kondisi Sosial dan Budaya Kerajaan Cirebon

A Kondisi Sosial Kerajaan Cirebon Perkembangan Cirebon tidak lepas dari pelabuhan, karena pada mulanya Cirebon memang sebuah bandar pelabuhan. Maka dari sini tidak mengherankan juga kondisi sosial di Kerajaan Cirebon juga terdiri dari beberapa golongan. Diantara golongan yang ada antara lain, golongan raja beserta keluargana, golongan elite, golongan non elite, dan golongan budak (Sartono Kartodirdjo, 1975:17). A.1 Golongan Raja Para raja/Sultan yang tinggal di kraton melaksanakan ataupun mengatur pemerintahan dan kekuasaannya. Pada mulanya gelar raja pada awal perkembangan Islam masih digunaka, tetapi kemudian diganti dengan gelar Sultan akibat adanya pengaruh Islam. Kecuali gelar Sultan terdapat juga gelar lain seperti Adipati, Senapati, Susuhunan, dan Panembahan (Kosoh dkk, 1979:96). Raja atau Sultan sebaai penguasa terinnggi dalam pemerintahan memiliki hubungan erat dengan pejabat tinggi kerajaan seperti senapati, menteri, mangkubumi, kadi, dan lain sebagainya. Pertemuan antara raja dengan pejabat ataupun langsung dengan rakyat tidak dilakukan setiap hari. Kehadiran raja di muka umum kecuali pada waktu audiensi/pertemuan juga pada waktu acara penobatan mahkota, pernikahan raja, dan putra raja (Sartono Kartodirdjo, 1975:17). A.2 Golongan Elite Golongan ini merupakan golongan yang mempunyai kedudukan di lapisan atas yang terdiri dari golongan para bangsawan/priyayi, tentara, ulama, dan pedagang. Diantara para bangsawan dan pengusa tersebut, patih dan syahbandar memiliki kedudukan kedudukan penting. Di Cirebon, pernah ada orang-orang asing yang dijadikan syahbandar dan mereka memempati golongan elite. Hal ini dipertimbangkan atas suatu dasar bahwa mereka memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas tentang perdagangan dan hubungan internasional. Golongan keagamaan yang terdiri dari ulama juga memiliki memiliki kedudukan yang tinggi, mereka umumnya berperan sebagai penasehat raja (Kosoh dkk, 1979:99). A.3 Golongan Non Elite Golongan ini merupakan merupakan lapisan masyarakat yang besar jumlahnya dan terdiri dari masyarakat kecil yang bermata pencaharian sebagai petani, pedagang, tukang, nelayan, dan tentara bawahan dan lapisan masyarakat kecil lainnya. Petani dan pedagang merupakan tulang punggung perekonomian, dan mereka mempunyai peranan sendiri-sendiri dalam kehidupan perekonomian secara keseluruhan (Kosoh dkk, 1979:99). A.4 Golongan Budak Golongan ini terdiri dari orang-orang yang bekerja keras, menjual tenagai sampai melakukan pekerjaan yang kasar. Adanya golonga buak tersebut disebabkan karena seseorang yang tidak bias membayar utang, akibat kalah perang. Golongan budak menempati status sosial paling rendah, namun mereka juga diperlukan oleh golongan raja maupun bangsawan untuk melayani keperluan mereka. Mereka dipekerjakan dalam membantu keperluannya dengan menggunakan fisik yang kuat. Mereka harus taat pula dengan peraturan yang dibuat oleh majikannya. Namun bagi mereka yang nasibnya baik dan bisa membuat majikan berkenan maka mereka bisa diangkat sebagai tukang kayu, juru masak dan lain sebagainya (Kosoh dkk, 1979:100). B Kondisi Budaya Kerajaan Cirebon Agama Islam mengajarkan agar para pemeluknya agar melakukan kegiatan-kegiatan ritualistik. Yang dimaksud kegiatan ritualistik adalah meliputi berbagai bentuk ibadah seagaimana yang tersimpun dari rukun Islam. Bagi orang Jawa, hidup ini penuh dengan riyual/upacara. Secara luwes Islam memberikan warna baru dalam upacara yang biasanya disebut kenduren atau selamatan (Darori, 1987:130-131). Membahas masalah budaya, maka tak lepas pula dengan seni, Cirebon memiliki beberapa tradisi ataupun budaya dan kesenian yang hingga sampai saat ini masih terus berjalan dan masih terus dlakukan oleh masyarakatnya. Salah satunya adalah upacara tradisional Maulid Nabi Muhammad SAW yang tela ada sejak pemerintahan Pangeran Cakrabuana, dan juga Upacara Pajang Jimat dan lain sebagainya. B.1 Upacara Maulid Nabi Upacara Maulid Nabi dilakukan setelah beliau wafat,± 700 tahun setelah beliau wafat (P.S. Sulendraningrat, 1978:85) upacara ini dilakukan sebagai rasa hormat dan sebagai peringatan hari kelahiran kepada junjungan besar Nabi Muhammad SAW. Secara istilah, kata maulud berasal dari bahasa Arab “Maulid” yang memiliki sebuah arti kelahiran. Upacara Maulid Nabi di Cirebon telah dilakkan sejak abad ke 15, sejak pemerintahan Sunan Gunung Jati upacara ini dilakukan dengan besar-besaran. Berbeda dengan masa pemerintahan Pangeran Cakrabuana yang hanya dilakukan dengan cara sederhana. Upacara Maulid Nabi di kraton Cirebon diadakan setiap tahun hingga sekarang yang oleh masyarakat Cirebon bisebut sebagai upacara “IRING-IRINGAN PANJANG JIMAT” (P.S. Sulendraningrat, 1978:86). B.2 Upacara Pajang Jimat Salah satu upacara yang dilakukan di Kerajaan Cirebon adalah Upacara Pajang Jimat. Pajang Jimat memiliki beberapa pengertian, Pajang yang berarti terus menerus diadakan, yakni setiap tahun, dan Jimat yang berarti, dipuja-puja (dipundi-pundi/dipusti-pusti) di dalam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW (P.S. Sulendraningrat, 1978:87). Pajang Jimat merupakn sebuah piring besar (berbentuk elips) yang terbuat dari kuningan. Bagi Cirebon Pajang Jimat memiliki sejarah khusus, yakni benda pusaka Kraton Cirebon, yang merupakan pemberian Hyang Bango kepada Pangeran Cakrabuana ketika mencari agama Nabi (Islam). Upacara Pajang Jimat pada Kraton Cirebon dilakukan pada tanggal 12 Rabiul Awal, setelah Isya’, upacara penurunan Pajang Jimat dilakukan oleh petugas dan ahli agama di lingkungan kraton. Turunnya Pajang Jimat dimulai dari ruang Kaputren naik ke Prabayaksa dam selanjutnya diterima oleh petugas khusus yang telah diatur. Adapun tatacara dan atribut dalam upacara Pajang Jimat, diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Beberapa lilin dipasang diatas standarnya. 2. Dua buah manggaran, dan buah nagan da dua buah jantungan. 3. Kembang goyak (kembang bentuuk sumping) 4 kaki. 4. Serbad dua guci dan duapuluh botl bir tengahan. 5. Boreh/parem. 6. Tumpeng. 7. Ancak sangar (panggung) 4 buah yang keluar dari pintu Pringgadani. 8. 4 buah dongdang yang berisi makanan, menyusul belakangan, keluar dari pintu barat Bangsal Pringgandani, ke teras Jinem. Upacara irig-iringan Pajang Jimat di Kraton Kasepuhan Cirebon ini sebagai gambaran peranan seorang dukun bayi (bidan). Jam 24.00 Pajang Jimat kembali dari Langgar Keraton masukke Kraton dengan melalui pintu sebelah barat menuju Kaputren, maka berakhirlah acara Upacara Maulid Nabi (P.S. sulendraningrat, 1978:87-94). B.3 Seni Bangunan dan Seni Ukir Seni bangunan dan seni ukir yang berkembang di kerajaan Cirebon tak lepas dari perkembngan seni pada zaman sebelumnya. Ukiran-ukiran yang ada pada kraton banyak menunjukkan pola zaman sebelumnya. Ukiran yang menunjukkan sifat khas pada Cirebon adalah ukiran pola awan yang digambarkan pada batu karang. Penggunaan seni bangunan masjid tampak asli pada penggunaan lengkungan pada ambang-ambang pintu masjid. Demikian pula dengan makam-makam yang strukturnya mengikuti zaman sebelumnya. Yakni berbentuk bertingkat dan ditempatkan di atas bukit-bukit menyerupai meru (Kosoh dkk, 1979:100). B.4 Seni Kasusasteran Diantara seni bangunan dan seni tari, terdapat juga seni kasusasteran yang berkembang. Diantarnya adalah seni tari, seni suara, dan drama yang mengandung unsur-unsur Islam. Seni kasusasteran yang berkembang ini juga tak lepas dari zaman sebelumnya. Misalnya saja seni tari, yang diantaranya yang berkembang adalah seni ogel namun mengandung unsur-unsur Islam (Kosoh dkk, 1979:100).

Kondisi Ekonomi Politik Kerajaan Cirebon


EKONOMI
             Sebagai sebuah kesultanan yang terletak diwilayah pesisir pulau Jawa, Cirebon mengandalkan perekonomiannya pada perdangangan jalur laut. Dimana terletak Bandar-bandar dagang yang berfungsi sebagai tempat singgah para pedagang dari luar Cirebon. Juga memiliki fungsi sebagai tempat jual beli barang dagangan. Dari artikel yang ditulis oleh Uka Tjandrasasmita, yang dibukukan dalam sebuah buku kumpulan artikel oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI Jakarta. Dituliskan sebuah artikel yang berjudul “Bandar Cirebon dalam Jaringan Pasar Dunia”, dalam artikelnya terbagi menjadi 3 periode, yaitu: Bandar Cirebon masa pra-islam, Bandar Cirebon masa pertumbuhan dan perkembangan kerajaan islam, dan masa pengaruh kolonial.
            Pada masa pra-islam Cirebon masih dalam kekuasaan kerajaan Sunda Pajajaran. Pada masa ini pula terdapat Bandar dagang yang berada di Dukuh Pasambangan dengan bandar Muhara Jati. Kapal-kapal yang berlabuh di bandar Muhara Jati antara lain berasal dari Cina, Arab, Tumasik, Paseh, Jawa Timur, Madura, dan Palembang (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997:56).
Dikatakan bahwa sebelum  Tome Pires (1513) Cirebon masih berkeyakinan Hindu-Buddha. Pada saat ini Ciebon masih dibawah kekuasaan kerajaan Sunda Pajajaran. Menurut cerita tradisi Cirebon mulai memeluk agama islam sekitar tahun 1337 M yang dibawa oleh Haji Purba. Pada abad 14 M perdagangan dan pelayaran sudah banyak dilakukan oleh orang muslim.
Dari cerita Purwaka Caruban Nagari diperoleh informasi bahwa terjadi perpindahan Bandar perdagangan. Bandar dagang yang dahulunya terlertak pada Bandar Muhara Jati di dukuh Pasambangan dipindah kearah selatan yaitu ke Caruban. Alasan mengapa Bandar dagang dipindahkan, menurut cerita Bandar dagang di Muhara jati mulai berkurang keramaiaannya. Caruban sendiri dibangun o0leh Walangsungsangatau Ki Samadullah atau Cakrabumi sebagai kuwu dan seterusnya. Sejak Syarif Hidayatullah, Bandar-bandar di Cirebon makin ramai dan makin baik untuk berhubungan dengan Parsi-Mesir, Arab, Cina, Campa, dan lainnya (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997:56).
Dengan kedatangan Belanda keadaan ekonomi di Cirebon dikuasai penuh oleh VOC. Dengan diadakannya perjanjian antara Belanda dengan Cirebon 30 April 1981, Cirebon selalu akan memelihara kepercayaan terhadap Belanda. Akan tetapi, seluruh komoditi perdagangan di Cirebon, dikuasai Belanda, hal ini hanya akan menguntungkan pihak Belanda dan merugikan Cirebon. Belanda menerapkan monopoli perdagangan dan pertanian, salah satu contohnya yaitu kebijakan menanam 10 pohon kopi tiap kepala keluarga di Priangan Timur. Juga dengan surat perintah tanggal 1 Maret 1729.
Dari gambaran diatas kita kenali bahwa pihak kesultanan sendiri dalam menjalankan perekonomian terutama terhadap komoditi-komoditi ekspor kurang, peranannya lebih banyak ditangan Belanda. Hal itu semuanya jelas dampak negative pengaruh kolonialisme Belanda sejak perjanjian tahun 1981 dan seterusnya. Dengan perjanjian-perjanjian tersebut Belanda sejak Kompeni menginginkan penguasaan atas daerah subur produksi kopi dan lainnya dapat terlaksana, disamping rasa ketakutannya terhadap penguasaan daerah Priangan Timur itu dikuasai oleh Banten dan juga Mataram (Departemen Pendiidikan dan Kebudayaan, 1997:67).
Selain yang telah dibahas diatas, keadaan ekonomi yang diterangkan oleh Uka Tjandrasasmita. Dapat dilihat pula keadaan perekonomian dari sumber lainnya. Selain perdagangan dan pelayaran. Perekonomian Cirebon juga ditunjang oleh kegiatan masyarakatnya yang menjadi nelayan. Cirebon juga dikenal sebagai kota udang, artinya Cirebon juga memiliki satu komoditi dagang utama yaitu terasi, petis dan juga garam.
Dalam kehidupan ekonomi juga masih ada peran dari orang asing. Orang asing tersebut menjadi syahbandar atau yang mengantur tentang ekspor impor perdagangan. Cirebon yang menjadi syahbandarnya yaitu orang-orang Belanda. Alasan mengapa syahbandar diambil dari orang-orang asing, karena orang-orang asing dianggap lebih mengetahui tentang cara-cara perdagangan. Di kota Cirebon juga terdapat pasa tertua yaitu pasar yang terletak di timur laut alun-alun kraton Kasepuhan dan lainnya di sebelah utara alun-alun kanoman.
POLITIK
            Perkembangan politik yang terjadi pada Cirebon berawal dari hubungan politiknya dengan Demak. Hal inilah yang menyebabkan perkembangan Cirebon. Dikatakan oleh Tome Pires yang menjadi Dipati Cirebon adalah seorang yang berasal dari Gresik. Kosoh, dkk (1979:94) Babad Cirebon menceritakan tentang adanya kekuasaan kekuasaan Cakrabuana atau Haji Abdullah yang menyebarkan agama  islam di kota tersebut sehingga upeti berupa terasi ke pusat Pajajaran lambat laun dihentikan.
            Selain hubungannya dengan Demak, kehidupan politik pada kala itu juga dipengaruhi oleh beberapa konflik. Konflik yang terjadi ada konflik internal dan  menjadi vassal VOC.
             Pertama yang terjadi, dimulai dari keputusan Syarif Hidayatullah yang resmi melepaskan diri dari kerajaan Sunda tahun 1482. Syarif Hidayatullah wafat pada tahun 1570, dan kepemimpinannya digantikan oleh anaknya yaitu Pangeran Ratu atau Panembahan Ratu. Pada masa kepemerintahannya, Panembahan Ratu menyaksikan berdirinya karajaan Mataram dan datangnya VOC di Batavia.
            Panembahan Ratu cenderung berperan sebagai ulama dari pada sebagai raja. Sementara di bidang politik, Panembahan Ratu menjaga hubungan baik dengan Banten dan Mataram .Setelah wafat pada tahun 1650, dalam usia 102 tahun, Panembahan Ratu digantikan oleh cucunya, yaitu Pangeran Karim yang dikenal dengan nama Panembahan Girilaya atau Panembahan Ratu II karena anaknya Pangeran Seda Ing Gayam telah wafat terlebih dahulu (Nina: online).
            Ketika terjadi pemberontakan Trunojoyo, Panembahan Senapati dijemput oleh utusan dari kesultanan Banten ke Kediri. Dalam perjalanan kondisi Senapati yang sakit-sakitan menyebabkan dia meninggal dunia dan akhirnya dimakamkan di bukit Giriliya. Sedangkan kedua anaknya dibawa ke Banten, yaitu: Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya. Namun, kemudian mereka dikembalikan ke Cirebon, disana mereka membagi tiga kekuasaan.
            Ketiga penguasa Cirebon ini berusaha untuk menjadikan diri sebagai penguasa tunggal. Sultan Sepuh merasa bahwa ia yang berhak atas kekuasaan tunggal karena ia anak tertua. Sementara Sultan Anom, juga berkeinginan yang sama sehingga ia mencoba mencari dukungan kepada Sultan Banten. Di lain pihak, Pangeran Wangsakerta , yang menjadi pengurus kerajaan saat kedua kakaknya dibawa ke Mataram, merasa berhak juga menjadi penguasa tunggal. Sultan Sepuh mencoba mendapat dukungan VOC dengan menawarkan diri menjadi vassal VOC. VOC sendiri tidak pernah mengakui gelar sultan pemberian Sultan Banten dan selalu menyebut mereka panembahan (Nina: online).
Dengan surat perjanjian tanggal 7 Januari 1681, Cirebon resmi menjadi vassal VOC. Jadilah, urusan perdagangan diserahkan kepada VOC, berbagai keputusan terkait Cirebon (termasuk pergantian sultan, penentuan jumlah prajurit) harus sepersetujuan VOC di Batavia, ketika para Sultan akan bepergian harus atas ijin VOC dan naik kapal mereka, dalam berbagai yupacara, pejabat VOC harus duduk sejajar dengan para Sultan (Nina: online).
Setelah kedatangan Belanda ke Cirebon membuat banyak  perubahan, khususnya di bidang politik. Pada tahun 1696, Sultan Anom II atas kehendak VOC menjadi Sultan. Pada Tahun 1768 kesultanan Cirebon dibuang ke Maluku.
            Situasi politik Cirebon yang sudah terkotak-kotak itu, memang tidak bisa dihindarkan. Namun ada hal yang menarik, bahwa seorang keturunan Sunan Gunung Jati, yaitu Pangeran Aria Cirebon, tampak berusaha langsung atau tidak langsung untuk menunjukkan soliditas Cirebon, sebagai suatu dinasti yang lahir dari seorang Pandita Ratu. Pertama, ketika ia diangkat sebagai opzigther dan Bupati VOC untuk Wilayah Priangan dan kedua , ia menulis naskah Carita Purwaka Caruban Nagari (Nina: online).

Runtuhnya Kerajaan Cirebon


            Pada tahun 1649 Panembahan Ratu Pangeran Emas telah meninggal pada usia 102 tahun. Dengan wafatnya Dipati Cerbon ke II, maka panembahan ratu menunjuk cucunya yaitu Pangeran Karim untuk membantunya menjalankan roda pemerintahan Cerbon Menggantikan ayahnya yaitu Dipati Cerbon ke II. Pangeran Karim waktu itu berusia 48 tahun menggantikannya sebagai Kepala Pemerintahan Cerbon yang ke III dengan gelar Panembahan Ratu II.
            Karena beliau wafat di Mataram sekitar tahun 1667 dan dimakamkan di pemakamn di bukit Girilaya, maka disebutlah beliau oleh anak keturunannya dengan sebutan Panembahan Girilaya. Akhirnya nama Panembahan Girilaya itulah yang disebut terus menerus dalamberbagai sumber sejarah, baik dalam Babad Cirebon, Sejarah Cirebon, Kitab Negara Kertabumi, maupun Kitab Purwaka Caruban Nagari. Oleh Karena itu nama Panembahan Girilaya lebih terkenal dari pada gelar resmi pada waktu penobatannya yaitu Panembahan Ratu ke II. 
            Pada saat Panembahan Ratu masih hidup beliau mengawinkan Panembahan Girilaya dengan Putri Sunan Amangkurat ke 1 tapi, untuk masalah kapan diselenggarakannya pernikahan ini sendiri tidak jelas, karena saat itu Sunan Amangkurat ke 1 baru naik tahta. Dan jika melihat pada literature lain itu adalah perkawinan kedua Panembahan Girilaya. Padaperkawinannya yang pertama beliau dikaruniai 2 orang anak yang bernama Panembahan Katimang dan Pangeran Gianti sedang pada perkawinan ke II mendapat 3 orang anak yaitu Pangeran Martawijaya, Pangeran Kertawijaya, dan Pangeran Wangsakerta.
            Pada masa pemerintahan Panembahan Ratu hubungan antara Cirebon dan Mataram sangat Harmonis dan itu terjadi hamper selama 6 tahun. Tetapi setelah Cirebon dipimpin Panembahan Girilaya hubungan yang tadinya harmonis berubah menjadi agak merenggang karena perubahan sikap dari Amangkurat 1 yang beranggapan bahwa Cirebon tak lebih baik atau tidak sederajat dengan Mataram. VOC yang mengetahui kerenggangan hubungan antara Mataram- Cirebon memanfaatkan benar peluang ini untuk mengadu domba mereka. Dalam waktu yang singkat strategi politik “Adu Domba” VOC bisa membuat kesemrawutan dalam tubuh Kerajaan Mataram.
            Dalam kondisi yang serumit itu Sunan Amangkurat 1 diduga berusaha denga keras mengatasinya dengan tindakan “pembersihan dan penertiban” yang pada nyatanya dilakukan dengan kejam dan kekerasan. Tindakan itu memakan banyak korban sehingga Panglima Angkatan Perang Mataram yang diandalakan  ayahnya sendiri yaitu Dipati Anom yang sekaligus putra Mahkota mulai membenci dan meninggalkan Sunan Amangkurat 1.
            Pada saat yang seperti itu Mataram mendapat kunjungan dari Panembahan Girilaya beserta 2 orang anaknya Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kertawijaya serta pengawalnya yang diperkirakan pada tahun 1666/1667. Namun alasan Panembahan Girilaya mengunjungi Mataram dan sampai di sana (diperkirakan pada saat berumur 66 tahun) tidak ada penjelasan yang pasti. Setelah kejadian wafatnya Panembahan Girilaya kedua anaknya yang ikut ke Mataram tadi ditahan dan dibawa oleh Trunojoyo pada tahun 1678 dari Mataram ke Kediri. Sejak wafatnya Panembahan Girilaya Cirebon telah terpecah belah dan hancur sehingga tidak mempunyai wibawa lagi dan akhirnya menjadi mainan belanda, mataram dan banten.
            Tidak berhenti disini timbul masalah baru yakni para kerabat Kerajaan yang setia pada Panembahan Girilaya yang tidak terima akan kemunduran Cirebon meminta bantuan dari Sultan Ageng Tirtayasa Dari Banten. Dan untuk mengisi kekosongan dengan cepat dan dengan pertimbangan yang matang Sultan Ageng Tirtayasa menetapkan pejabat Kepala Negara Cirebon yaitu anak ketiga Panembahan Girilaya yaitu adalah Pangeran Wangsakerta yang pada waktu itu tidak ikut kedalam kunjungan ke Mataram dinobatkan sebagai Sultan Cirebon oleh Sultan Banten.
            Pada saat itu setelah Trunojoyo dapat memukul mundur pasukan Cirebon dan dapat membuat ketakutan serta membuat lari Sunan Amangkurat 1. Hilanglah kekuasaan Mataram yang Kejam dan Otoriter dan pada saat itu atas permintaan Sultan Banten, Sultan Banten meminta Trunojoyo membawa dua putra mahkota pesakitan itu untuk dibawa ke Kediri dan selanjutnya dibawa ke Banten. Selanjutnya karena kurangnya keterangan yang jelas proses kembalinya 2 pangeran itu ke Cirebon kurang jelas dan pula penobatannya Pangeran Martawijaya sebagai Sultan Sepuh dengan gelar Raja Syamsudin dan Pangeran Kertawijaya sebagai Sultan Anom dengan gelar Sultan Mahmud Badridi.
            Dengan adanya tiga sultan di Kerajaan Cirebon ini adalah titik dari masa akhir Kerajaan Cirebon. Pada masa itu sudah ada usulan untuk membagi kerajaan menjadi 3 bagian tapi apa mau dikata ketidaksepahamlah yang didapat , karena masing masing mempunyai minat yang sama untuk menjadi sultan Cirebon. Pada tahun 1681 tepatnya 23 Januari dilaksanakanperjanjian persahabatan antara  Sultan-Sultan Cirebon dengan pihak VOC yang diwakili oleh Van Dyck.
            Dari penandatanganan itu mengandung arti besar, karena peristiwa itu menjadi akar dari konflik baru dicirebon. Menurut keterangan P.S. Sulendranigrat dalam bukunya “Sejarah Cirebon” peristiwa penandatanganan inimenimbulkan perpecahan dari para pembesar pemerintahan di Cirebon tentunya adalah pro dan kontra diadakannya penandatangan perjanjian persahabatan tersebut. Dan setelah VOC bubar tahun 1800 maka Gubernur Jenderal Daendles menetapkan langkah strategis dengan mengeluarkan Reglement op het beheer van de Cheribonsche Landen pada 2 februari 1809 dan dengan  keluarnya itu tadi maka Sultan-Sultan  di Cerbon yaitu Kasepuhan , Kanoman dan Kacirebonan tidak memiliki kekuasaan lagi karena dijadikan Pegawai Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Pada saat akan keluar keputusan Pemerintah Kolonial Belanda , maka di Kesultanan Kanoman terjadi peristiwa pemecahan diri Kanoman menjadi Kanoman dan Kacerbonan. Dengan Fakta diatas dapat kita ketahui faktor faktor penyebab runtuhnya kerajaan Cirebon.

ssumber :  http://kerajaan-cirebon.blogspot.co.id/