AWAL BERDIRINYA KERAJAAN CIREBON PADA MASA INDONESIA MADYA
1. Letak Kerajaan Cirebon
Semula Cirebon termasuk dalam daerah kekuasaan kerajaan Sunda
Pajajaran, bahkan menjadi salah satu kota pelabuhan kerajaan tersebut
(Tim Penulis Nasional Sejarah Indonesia , 2010 : 59 ). Pelabuhan ini
sudah ramai dari perahu pedagang-pedagang luar negeri. Pedagang-pedagang
itu antara lain dari arab, persi, malaka, cina, dll.
Letak Kerajaan Cirebon secara geografis di pesisir pantai pulau Jawa,
merupakan mata rantai dalam jalan perdagangan internasional pada waktu
itu yang antara lain membentang dari kepulauan Maluku hingga teluk Parsi
(jagad pustaka : 2013). Pedagang yang datang dari berbagai pulau bahkan
berbagai Negara. Tidak heran heran jika pada wilayah ini menjadi jalur
perdagangan yang ramai.
Melalui jalan perdagangan dapat mengalir pula arus kebudayaan dan
keagamaan, dan konon menurut cerita orang jalan perdagangan itupun
memegang peranan penting dalam proses penyebaran agama Islam di pulau
Jawa (jagad pustaka : 2013). Karena banyak pedagang yang datang, salah
satunya dari Arab. Pedagang- pedagang dari Arab itu selain datang untuk
berdagang, mereka juga menyebarkan Agama Islam.
2. Awal Mula Berdirinya Kerajaan Cirebon
Pada tahun 1302 cirebon mempunyai 3 daerah otonom di bawah kekuasaan
kerajaan Pajajaran yang masing-masing di kuasai oleh seorang Mangkubumi
(Sulendraningrat , 1978 : 16). 3 daerah otonom itu adalah Singapura
atau Mertasinga yang dikepalai oleh Mangkubumi Singapura. Daerah
Pesambangan yang dikepalai oleh Ki Ageng Jumajan Jati. Dan Daerah Japura
yang dikepalai oleh Ki Ageng Japura.
Ketiga daerah otonom tersebut masing-masing mengirimkan upeti setiap
tahunnya kepada kerajaan Pajajaran (Sulendraningrat , 1978 : 16).
Semula Cirebon termasuk dalam daerah kekuasaan kerajaan Sunda
Pajajaran, bahkan menjadi salah satu kota pelabuhan kerajaan tersebut
(Tim Penulis Nasional Sejarah Indonesia , 2010 : 59 ). Sekitar tahun
1513 cirebon ini tidak lagi dibawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran, namun
sudah di beritakan masuk ke dalam daerah jawa di bawah kekuasaan
Kerajaan Demak. Saat itu Cirebon di kuasai oleh Lebe Usa
Syarif Hidayatullah atau yang sering di kenal dengan Sunan Gunung Jati
telah datang di Cirebon pada tahun 1470. Syarif Hidayatullah datang
untuk mengajarka agama Islam. Syarif Hidayatullah mengajarkan agama
Islam di Gunung Sembung. Syarif Hidayatullah adalah putra dari wanita
asal Galuh, Caruban. Wanita tersebut adalah NhayLara Santang yaitu adik
dari Pangeran Cakrabuana pemimpin Cirebon.
Syarih Hidayatullah Mengajarkan agama islam ditemanni dengan uaknya
Haji Abdullah Iman dan pangeran Cakrabumi atau pangeran Cakrabuana. Haji
Abdullah Iman dan Pangeran Cakrabuana sudah lebih dahulu berada atau
tinggal di Cirebon.
Syarif Hidayatullah menikah dengan Pakung Wati. Pakung Wati adalah putri
dari Uaknya. Syarif Hidayatullah menggantikan mertuanya sebagai
penguasa Cirebon pada tahun 1479. Setelah menikah dan menjadi penguasa
Cirebon, Syarif Hidayatullah membangun atau mendirikan sebuah kraton.
Karaton itu diberi nama Kraton Pakung Wati. Kraton Pakung Wati terletak
disebalah timur Kraton Sultan Kesepuluhan sekarang ini.
Syarif Hidayatullah ini terkenak dengan Gelar Gusuhunan Jati atau
sering dikenal dengan Sunan Gunungjati. Syarif Hidayatullah menjadi
saleh seorang dari Wali Sanga. Syarif Hidayatullah mendapat Julukan
Pandita Ratu sejak ia berfungsi sebagai penyebar Agama Islam di tanah
Sunda dan Sebagai Kepala Pemerintahan (Tim Penulis Nasional Sejarah
Indonesia , 2010 : 59 ).
Semenjak Syarif Hidayatullah menjadi penguasa di Cirebon, Cirebon
menghentikan upeti ke pusat Kerajaan Pajajaran di pangkuan. Sejak saat
itulah Cirebon menjadi Kerajaan yang dikepalai oleh Syarif Hidayatullah.
Masa Kejayaaan Kerajaan Cirebon
Kerajaan Cirebon berada pada puncak kejayaan ketika dipimpin oleh Syarif
Hidayatullah. Syarif Hidayatullah putra wanita asal Galuh-Caruban yaitu
Nhay Lara Santang adik dari Pangeran Cakrabuwana pemimpin Caruban yang
menikah dengan Mauana Sultan Muhammad.
Ketika Syarif Hidayat berusia duapuluh tahun, ia pergi ke Makkah berguru
kepada Syeh Tajamudin Al ubri, di sini ia tinggal selama dua tahun,
setelah tamat dari Syeh Tajamudin kemudian Syarif Hidayat, meneruskan
pelajaran kepada Syeh Ataillah Syazalli, masih di Mekkah juga selama dua
tahun (Sunardjo, 1983:51).
Ketika Cirebon mengalami kejayaan pada masa Syarif Hidayatullah sudah
tidak diragukan lagi, karena pengalaman ilmu yang didapat sangat luar
biasa. Itu dapat kita lihat dari beliau mempunyai dua guru besar yang
ada di Mekkah. Syarif hidayatullah juga pernah belajar Tasawuf di
Bagdad. Beliau di Bagdad beliau belajar tasawuf selam dua tahun.
Kemudian beliau kembali ke negerinya yaitu Oqnah Yutra.
Kemudain beliau memutuskan untuk pergi ke Jawa karena beliau ingin
menjadi mubaligh di Jawa. Dalam perjalanannya ke pulau Jawa Syarif
Hidayatullah sempat singgah di Gujarat.
Setelah dari Gujarat, Srarif Hidayat singgal dan tinngal pula di
Samudera Pasai, sebuah tempat di Aceh yang pada masa itu sudah merupakan
Kerajaan Islam yang cukup besar karena sudah berdiri sejak 1296
(Sunardjo, 1983:52).
Mungkin saja ketika di Samudra Pasai Syarif Hidayatullah sedikit banyak
belajar tentang pemerintahan Islam. Karena beliau juga tinggal beberapa
waktu di Samudera Pasai. Jadi tidak heran lagi ketika beliau menjadi
pemimpin di Cirebon dapat membawa pada kejayaan.
Kemudian Syarif Hidayatullah melanjutkan perjalannanya ke Banten,
kemudian ke Ampel. Ada bebrapa versi mengapa Syarif Hidayatullah pergi
ke Ampel. Setelah dari Ampel, kemudain beliau mejunu Cirebon untuk
menyiarkan agama Islam atas perintah dari para wali.
Menurut Kitab Purwaka Caruban dalam bukunya R.H. Unang Sumardjo SH
dijelaskan bahwa: Syarif Hidayatullah mendirikan pesantren di Dukuh
Sembung masuk wilayah Pasambangan juga mengajar agama Islam di ampung
Badaban (kurang lebih 3 Km arah Barat dari Pasambangan).
Dari keterangan diatas dapat dipastikan bahwa kehadiran Syarif
Hidayatullah di Cirebon sudah dapat diterima oleh pribumi Cirebon itu
sendiri. Karena mustahil ketikan kedatangan Syarif Hidayatullah di
Cirebon kemudian mendirikan pesantren tidak mendapatkan persetujuan
pribumi Cirebon. Disisi lain komunikasi yang digunakan oleh Syarif
Hidayatullah dapat diterima oleh pribumi Cirebon.
Disisi lain Syarif Hidayatullah merupakan keponakan dari Pangeran
Cakrabuwana pemimpin Caruban. Jadi kalau hanya mendirikan pesantren di
Cirebon menjadi hal yang mudah bagi Syarif Hidayatullah.
Namun demikian, kemungkina Syarif Hidayatullah mengajukan usul agar
dalam tahun-tahun pertamanya di Cirebon diberi kesempatan untuk menjadi
pendidik/guru dahulu sesuai keputusan para wali, sebagai pengganti Syeh
Datuk Kahfi (Sunardjo, 1983:55). Ini dilakaukan Syarif Hidayatullah
supaya dapat mempelajari tentang masyarkat Cirebon itu sendiri. Mengapa
yang dipilih mendirikan pesantren, dikarenakan yang pertama adalh
keinginan dari Syarif Hidayatullah unuk menjadi mubaligh dipulau Jawa
yang juga dipertegas dengan titah dari para wali untuk mensyiarkan Islam
di tanah Sunda. Selain itu, ketika Syarif hidayatullah menjadi pemimpin
pesatren, beliau dapat mempelajari tentang nilai-nilai ataupun pola
kehidupan masyarakat Cirebon.
Diperkirakan pada suatu waktu ada beberapa orang dari Banten yang
sengaja datang ke Pasambangan menemui Syeh Jati (yang sudah dikenal di
Banten karena pernah tinggal di sini beberapa waktu lamanya setibanya
dari Samudera Pasai), dan mengajukan permohonan kepada Syeh jati untuk
memberikan pelajaran Agama Islam di Banten (Sunardjo, 1983:57).
Kemungkinan juga sepak terjang dari Syarif Hidayatullah sundah tersebar
luas kabarnya sampai ke Banten. Karena pada waktu Syarif Hidayatullah
berada di Banten setelah dari Samudera Pasai, beliau tinggal tidak lama.
Ketika berada di Banten, Syarif Hidayatullah diminta untuk segera
kembali ke Cirebon oleh Pangeran Cakrabuwana. Karena kehadiran dan
tenaganya sangant dibutuhkan di Cirebon.
Ternyata Pangeran Cakranuwana sudah lama mempunyai rencana dan ingin
cepat merealisasikan rencananya itu untuk menobatkan Syarif Hidayatullah
sebagai penguasa di nagari Caruban menggantikan dirinya (Sunardjo,
1983:59). Yang menjadi pertanyaan adalah menganpa Pengeran Cakrabuwana
memilih Syarif Hidayatullah untuk menggantikan dirinya. Disini penulis
sulit menemukan sumber yang relevan mengenai masalah itu. Yang pasti
bahwa alasan mengangkat Syarif Hidayatullah menjadi pengganti Pangeran
Cakrabuwana tidak slah. Karena sudah jelah mengenai track record dari
Syarif Hidayatullah. Karena juga Syarif Hidayatullah merupaka keponakan
dari Pangeran Cakrabuwana.
Penobatan Syarif Hidayatullah menjadi Tumenggung di Cirebon merupakan
era baru bagi Cirebon. Beliaulah yang mengganti nama Cirebon yang
dulunya adalah Caruban, dan diganti dengan Cerbon dan terus berkembang
menjadi Cirebon.
Masa kejayaan kerajaan Cirebon di awali dari perkembangan Islam. Pada
masa Syarif hidayatullah Islam berkembang dengan pesat. Sudah tidak
kaget lagi ketika Islam mengalami perkembangan yang pesat. Memang tujuan
utama Syarif Hidayatullah ke pulau Jawa adalah menjadi mubaligh untuk
menyiarkan Islam. Disisi lain gaya komunikasi yang digunakan sehingga
dapat membius pribumi Cirebon untuk masuk Islam. Silsilah dari Syarif
Hidayatullah juga yang dapat dengan mudah menjadi keyakinan pribumi
beliau, yaitu cucu dari Prabu Siliwangi.
Kejayaan kerajaan Cirebon tidak lepas dari campur tangan Pangeran
Cakrabuwana. Menurut perkiraan beberapa waktu sebelum penobatan, syarif
Hidayatullah dengan Pangeran Cakrabuwana telah membicarakan tentang
berbagai konsep pembangunan negara serta beberapa rencana operasional
(Sunardjo, 1983:60).
Sudah pasti Syarif hidayatullah melaksanankan konsep-konsep yang telah
dirancang bersama dengan Pangeran Cakrabuwana. Berdasarkan perkiraan
dengan memperhatikan temuan-temuan dilapangan dan uraian-uraian dalam
itab Purwaka Caruban Nagari yang tertulis dalam bukunya Unang Sunadjo
menyebutkan bahwa: azaz pemerintahandi wilayah Cirebon adalah berazaz
desentralisasi. Sedangkan polanya yang utama adalah pola pemerintahan
kerajaan di pesisir, di mana pelabuhan menjadi bagian yang sangat
penting dan pedalaman menjadi penunjang yang sangat vital.
Dari uraian diatas dapat di ambil inti sari bahwa hubungan antara daerah
pesisir yaitu pelabuhan, dengan daerah pedalaman (sektor pertanian dan
pemasaran) saling berkaitan. Komoditi-komoditi yang masuk dari pelabuhan
dibawa ke daerah pedalaman untuk dijual. Begitu juga ketika komoditi
dari sektor pertanian akan di ekspor melewati pelabuhan.
Pada masanya, bidang politik, keagamaan, dan perdagangan, makin maju.
Pada masa itu terjadi penyebaran Islam ke Banten (sekitar 1525-1526)
dengan penempatan putra Syarif Hidayatullah , yaitu Maulana Hasanuddin,
setelah meruntuhkan pemerintahan Pucuk Unum, penguasa kadipaten dari
kerajaan Sunda Pajajaran yang berkedudukan di Banten Girang. Setelah
Islam, pusat pemerintahan Maulana Hasanuddin terletak di Surowan dekat
muara Cibanten (Tjandarsasmita, 2009:164)
Sudah jelas bahwa Syarif Hidayatullah memperluas wilayah dengan
penyerangan daerah-daerah kecil untuk menyabarkan Islam. Ini penting
untuk dilakukan supaya Islam dapat tersebar dengan cepat. Upaya ini juga
untuk mendapatkan pengaruh yang kuat dari wilayah-wilayah lain di Jawa
bagian barat.
Pada suatu ketika Syarif Hidayatullah pergi ke Demak untuk membantu
membangun masjid Demak. Syarif Hidayatullah menyumbang tiang masjid yang
sekarang dikenal dengan Saka Guru. Ketika merujuk dari sumbangsi Syarif
Hidayatullah dalam pembangunan masjid Demak, ini merupakan salah satu
strategi dari Syarif Hidayatullah dalam melakukan hubungan abatar
kerajaan. Karena pada waktu itu di Demak juga berdiri kerajaan yang
besar dibawah pimpinan Raaden Patah. Hubungan ini dilakukan supaya
eksistensi dari Cirebon dapat terjaga. Ketika berada di Demak dan juga
para wali berkumpul, mungkin Syarif Hidayatullah menyempatkan untuk
membahas maslah-masalah kerajaan-kerajaan yang masih belum terdapat
agama Islam.
Setibanya di Cirebon, Syarif Hidayatullah mengadakan rapat yang
menghasilkan kebijakan politik, sikap politik kerajaan Cirebon terhadap
kerajaan Pajajaran yaitu tidak bersedia lagi mengirim upeti (bulubhekti)
kepada Pajajaran yang disalurkan melalui Adipati Galuh (Sunardjo,
1983:67).
Sikap ini secara tidak langsung Cirebon menyatakan kemerdekaannya.
Karena sudah melepaskan diri dari Pajajaran dengan cara tidak lagi
mengirim upeti. Ketika kita melihat kembali silsilah dari Syarif
Hidayatullah, penguasa Pajajran pada waktu itu adalah Prabu Siliwangi,
yaitu kakeknya sendiri. Tindakan ini awalnya mendapat respon keras dari
Prabu Siliwangi, akan tetapi kemudian Prabu Siliwangi seakan-akan
membiarkan keputusan yang diambil oleh Syarif Hidayatullah. Karena Prabu
Siliwangi menghindari perang saudara. Mungkin juga dikarenakan hubungan
antara Cirebon dengan Demak yang semakin erat. Sehingga Prabu Siliwangi
tidak dapat mengambil sikap keras.
Sejak Syarif Hidayatullah bandar Cirebon makin ramai baik untuk
berhubungan laut antar Persi-Mesir dan Arab, Cina, Campa dan lainnya
(Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997:62). Keraimain di bandar
Cirebon sudah menjadi bukti nyata kebesaran Cirebon dikancah
internasional. Terbukti dengan banyaknya pedagang dari berbagai negara.
Ketika bandar Cirebon pada puncak keramaiannya, pasti ada halangan.
Mungkin dari bajak laut ataupun yang lain.
Susuhunan Jati segera mengirim pasukan menumpas Bajak Laut ini dengan
menyeran pangkalannya. Pasukan Cirebon yang berkekuatan dua ribu tjuh
ratu orang dipimpin oleh Dipati Keling (Sunardjo, 1983:68). Tindakan ini
sangat dibutuhkan untuk menjaga keamanan bandar Cirebon. Apabila Syarif
Hidayatullah tidak mengambil tindakan tegas, maka bandar Cirebon dalam
bahaya yang berakibat bandar menjadi sepi.
Pada tahun 1527 pasukan Demak di bawah pimpina Faletehan dengan bantuan
pasukan Cirebon, Dipati eling, dan Dipati Cangkuang berhasil menaklukan
Sunda Kelapa, sejak itu namanya diganti dengan Jayakarta dan Faletehan
diangkat sebagai kepala pemerintah yang pertama (Kosoh dkk. 1979:82).
Ketika pemimpin suatu daerah Islam, maka masyarakat yang berada di
wilayah itu juga memeluk Islam. Begitu juga dengan Jayakarta, Faletehan
segera meng-Islamkan masyarakat Jayakarta. Sehingga masyarakat pesisir
utara Jawa sudah memeluk Islam.
Dengan masuknya bandar-bandar kerajaan Pajajaran seperti Banten tahun
1526, Kalapa, tahun 1527 maka seluruh utara Jawa Barat telah ada dalam
kekeuasaan Islam (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997:63). Akibat
keadaan seperti ini maka bandar-bandar termasuk Cirebon menjadi tempat
perdagangan internasinal.
Sebagai mana lazimnya pada masi itu, maka setelah dicarikan waktu yang
tepat Susuhunan Jati mengeluarkan keputusan untuk membangun sebuah
mesjid yang besar sebagaimana halnya di Demak (Sunardjo, 1983:74).
Dengan demikian sudah jelas bahwa Cirebon dibawah kepemimpina Syrif
Hidayatullah yang juga seorang wali berhasil mempercepat perkembangan
Cirebon sebagai syiar Islam dan juga perdagangan.
Seperti yang dijelaskan oleh RH Unang Sunardjo dalam bukunya yang
menjelaskan:
1. Telah terpenuhinya prasarana dan sarana pisik essensial pemerintahan
dan ekonomi dalam ukuran suatu Kerajaan Pesisir.
2. Telah dikuasainya daerah-daerah belakang (hinterland) yang dapat
diharapkan mensuplay bahan pangan termasuk daerah penghasil garam,
daerah yang cukup vital bagi income nagari pesisir dengan luas yang
memadai.
3. Telah adanya sejumlah pasukan lasykar dengan semangat yang tinggi,
yang dipimpin oleh para panglima (dipati-dipati) yang cukup berwibawa
dan bisa dipercaya loyalitasnya.
4. Adanya sejumlah penasehat-penasehat baik dibidang pemerintahan maupun
agama.
5. Terjalinnya hubungan antar negara yang sangat erat antar Cirebon
dengan Demak.
6. Mendapat dukungan penuh dari para wali.
7. Tidak terdapat indikasi tentang ancaman Prabu Siliwangi untuk
menghancurkan eksistensi cirebon.
Dari uraian diatas dapat dijadikan acuan bahwa Cirebon pada masa Syarif
Hidayatullah berada dalam kejayaannya.
Sunan Gunung Jati wafat pada tahun 1568 dan dimakamkan di Bukit Sembung
yang juga dikenal dengan makam Gunung Jati (Tim Nasional Penulisan
Sejarah Indonesia. 2010:60). Kemudian digantikan oleh Panembahan Ratu
putra Pangeran Suwarga.
Kondisi Sosial dan Budaya Kerajaan Cirebon
A Kondisi Sosial Kerajaan Cirebon
Perkembangan Cirebon tidak lepas dari pelabuhan, karena pada mulanya
Cirebon memang sebuah bandar pelabuhan. Maka dari sini tidak
mengherankan juga kondisi sosial di Kerajaan Cirebon juga terdiri dari
beberapa golongan. Diantara golongan yang ada antara lain, golongan raja
beserta keluargana, golongan elite, golongan non elite, dan golongan
budak (Sartono Kartodirdjo, 1975:17).
A.1 Golongan Raja
Para raja/Sultan yang tinggal di kraton melaksanakan ataupun mengatur
pemerintahan dan kekuasaannya. Pada mulanya gelar raja pada awal
perkembangan Islam masih digunaka, tetapi kemudian diganti dengan gelar
Sultan akibat adanya pengaruh Islam. Kecuali gelar Sultan terdapat juga
gelar lain seperti Adipati, Senapati, Susuhunan, dan Panembahan (Kosoh
dkk, 1979:96). Raja atau Sultan sebaai penguasa terinnggi dalam
pemerintahan memiliki hubungan erat dengan pejabat tinggi kerajaan
seperti senapati, menteri, mangkubumi, kadi, dan lain sebagainya.
Pertemuan antara raja dengan pejabat ataupun langsung dengan rakyat
tidak dilakukan setiap hari. Kehadiran raja di muka umum kecuali pada
waktu audiensi/pertemuan juga pada waktu acara penobatan mahkota,
pernikahan raja, dan putra raja (Sartono Kartodirdjo, 1975:17).
A.2 Golongan Elite
Golongan ini merupakan golongan yang mempunyai kedudukan di lapisan atas
yang terdiri dari golongan para bangsawan/priyayi, tentara, ulama, dan
pedagang. Diantara para bangsawan dan pengusa tersebut, patih dan
syahbandar memiliki kedudukan kedudukan penting. Di Cirebon, pernah ada
orang-orang asing yang dijadikan syahbandar dan mereka memempati
golongan elite. Hal ini dipertimbangkan atas suatu dasar bahwa mereka
memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas tentang perdagangan dan
hubungan internasional. Golongan keagamaan yang terdiri dari ulama juga
memiliki memiliki kedudukan yang tinggi, mereka umumnya berperan sebagai
penasehat raja (Kosoh dkk, 1979:99).
A.3 Golongan Non Elite
Golongan ini merupakan merupakan lapisan masyarakat yang besar jumlahnya
dan terdiri dari masyarakat kecil yang bermata pencaharian sebagai
petani, pedagang, tukang, nelayan, dan tentara bawahan dan lapisan
masyarakat kecil lainnya. Petani dan pedagang merupakan tulang punggung
perekonomian, dan mereka mempunyai peranan sendiri-sendiri dalam
kehidupan perekonomian secara keseluruhan (Kosoh dkk, 1979:99).
A.4 Golongan Budak
Golongan ini terdiri dari orang-orang yang bekerja keras, menjual
tenagai sampai melakukan pekerjaan yang kasar. Adanya golonga buak
tersebut disebabkan karena seseorang yang tidak bias membayar utang,
akibat kalah perang. Golongan budak menempati status sosial paling
rendah, namun mereka juga diperlukan oleh golongan raja maupun bangsawan
untuk melayani keperluan mereka. Mereka dipekerjakan dalam membantu
keperluannya dengan menggunakan fisik yang kuat. Mereka harus taat pula
dengan peraturan yang dibuat oleh majikannya. Namun bagi mereka yang
nasibnya baik dan bisa membuat majikan berkenan maka mereka bisa
diangkat sebagai tukang kayu, juru masak dan lain sebagainya (Kosoh dkk,
1979:100).
B Kondisi Budaya Kerajaan Cirebon
Agama Islam mengajarkan agar para pemeluknya agar melakukan
kegiatan-kegiatan ritualistik. Yang dimaksud kegiatan ritualistik adalah
meliputi berbagai bentuk ibadah seagaimana yang tersimpun dari rukun
Islam. Bagi orang Jawa, hidup ini penuh dengan riyual/upacara. Secara
luwes Islam memberikan warna baru dalam upacara yang biasanya disebut
kenduren atau selamatan (Darori, 1987:130-131). Membahas masalah budaya,
maka tak lepas pula dengan seni, Cirebon memiliki beberapa tradisi
ataupun budaya dan kesenian yang hingga sampai saat ini masih terus
berjalan dan masih terus dlakukan oleh masyarakatnya. Salah satunya
adalah upacara tradisional Maulid Nabi Muhammad SAW yang tela ada sejak
pemerintahan Pangeran Cakrabuana, dan juga Upacara Pajang Jimat dan lain
sebagainya.
B.1 Upacara Maulid Nabi
Upacara Maulid Nabi dilakukan setelah beliau wafat,± 700 tahun setelah
beliau wafat (P.S. Sulendraningrat, 1978:85) upacara ini dilakukan
sebagai rasa hormat dan sebagai peringatan hari kelahiran kepada
junjungan besar Nabi Muhammad SAW. Secara istilah, kata maulud berasal
dari bahasa Arab “Maulid” yang memiliki sebuah arti kelahiran. Upacara
Maulid Nabi di Cirebon telah dilakkan sejak abad ke 15, sejak
pemerintahan Sunan Gunung Jati upacara ini dilakukan dengan
besar-besaran. Berbeda dengan masa pemerintahan Pangeran Cakrabuana yang
hanya dilakukan dengan cara sederhana. Upacara Maulid Nabi di kraton
Cirebon diadakan setiap tahun hingga sekarang yang oleh masyarakat
Cirebon bisebut sebagai upacara “IRING-IRINGAN PANJANG JIMAT” (P.S.
Sulendraningrat, 1978:86).
B.2 Upacara Pajang Jimat
Salah satu upacara yang dilakukan di Kerajaan Cirebon adalah Upacara
Pajang Jimat. Pajang Jimat memiliki beberapa pengertian, Pajang yang
berarti terus menerus diadakan, yakni setiap tahun, dan Jimat yang
berarti, dipuja-puja (dipundi-pundi/dipusti-pusti) di dalam memperingati
hari kelahiran Nabi Muhammad SAW (P.S. Sulendraningrat, 1978:87).
Pajang Jimat merupakn sebuah piring besar (berbentuk elips) yang terbuat
dari kuningan. Bagi Cirebon Pajang Jimat memiliki sejarah khusus, yakni
benda pusaka Kraton Cirebon, yang merupakan pemberian Hyang Bango
kepada Pangeran Cakrabuana ketika mencari agama Nabi (Islam).
Upacara Pajang Jimat pada Kraton Cirebon dilakukan pada tanggal 12
Rabiul Awal, setelah Isya’, upacara penurunan Pajang Jimat dilakukan
oleh petugas dan ahli agama di lingkungan kraton. Turunnya Pajang Jimat
dimulai dari ruang Kaputren naik ke Prabayaksa dam selanjutnya diterima
oleh petugas khusus yang telah diatur. Adapun tatacara dan atribut dalam
upacara Pajang Jimat, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Beberapa lilin dipasang diatas standarnya.
2. Dua buah manggaran, dan buah nagan da dua buah jantungan.
3. Kembang goyak (kembang bentuuk sumping) 4 kaki.
4. Serbad dua guci dan duapuluh botl bir tengahan.
5. Boreh/parem.
6. Tumpeng.
7. Ancak sangar (panggung) 4 buah yang keluar dari pintu Pringgadani.
8. 4 buah dongdang yang berisi makanan, menyusul belakangan, keluar dari
pintu barat Bangsal Pringgandani, ke teras Jinem.
Upacara irig-iringan Pajang Jimat di Kraton Kasepuhan Cirebon ini
sebagai gambaran peranan seorang dukun bayi (bidan). Jam 24.00 Pajang
Jimat kembali dari Langgar Keraton masukke Kraton dengan melalui pintu
sebelah barat menuju Kaputren, maka berakhirlah acara Upacara Maulid
Nabi (P.S. sulendraningrat, 1978:87-94).
B.3 Seni Bangunan dan Seni Ukir
Seni bangunan dan seni ukir yang berkembang di kerajaan Cirebon tak
lepas dari perkembngan seni pada zaman sebelumnya. Ukiran-ukiran yang
ada pada kraton banyak menunjukkan pola zaman sebelumnya. Ukiran yang
menunjukkan sifat khas pada Cirebon adalah ukiran pola awan yang
digambarkan pada batu karang. Penggunaan seni bangunan masjid tampak
asli pada penggunaan lengkungan pada ambang-ambang pintu masjid.
Demikian pula dengan makam-makam yang strukturnya mengikuti zaman
sebelumnya. Yakni berbentuk bertingkat dan ditempatkan di atas
bukit-bukit menyerupai meru (Kosoh dkk, 1979:100).
B.4 Seni Kasusasteran
Diantara seni bangunan dan seni tari, terdapat juga seni kasusasteran
yang berkembang. Diantarnya adalah seni tari, seni suara, dan drama yang
mengandung unsur-unsur Islam. Seni kasusasteran yang berkembang ini
juga tak lepas dari zaman sebelumnya. Misalnya saja seni tari, yang
diantaranya yang berkembang adalah seni ogel namun mengandung
unsur-unsur Islam (Kosoh dkk, 1979:100).
Kondisi Ekonomi Politik Kerajaan Cirebon
EKONOMI
Sebagai sebuah
kesultanan yang terletak diwilayah pesisir pulau Jawa, Cirebon mengandalkan
perekonomiannya pada perdangangan jalur laut. Dimana terletak Bandar-bandar
dagang yang berfungsi sebagai tempat singgah para pedagang dari luar Cirebon.
Juga memiliki fungsi sebagai tempat jual beli barang dagangan. Dari artikel
yang ditulis oleh Uka Tjandrasasmita, yang dibukukan dalam sebuah buku kumpulan
artikel oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI Jakarta. Dituliskan sebuah
artikel yang berjudul “Bandar Cirebon dalam Jaringan Pasar Dunia”, dalam
artikelnya terbagi menjadi 3 periode, yaitu: Bandar Cirebon masa pra-islam,
Bandar Cirebon masa pertumbuhan dan perkembangan kerajaan islam, dan masa
pengaruh kolonial.
Pada masa pra-islam Cirebon masih dalam kekuasaan
kerajaan Sunda Pajajaran. Pada masa ini pula terdapat Bandar dagang yang berada
di Dukuh Pasambangan dengan bandar Muhara Jati. Kapal-kapal yang berlabuh di
bandar Muhara Jati antara lain berasal dari Cina, Arab, Tumasik, Paseh, Jawa
Timur, Madura, dan Palembang (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997:56).
Dikatakan
bahwa sebelum Tome Pires (1513) Cirebon
masih berkeyakinan Hindu-Buddha. Pada saat ini Ciebon masih dibawah kekuasaan
kerajaan Sunda Pajajaran. Menurut cerita tradisi Cirebon mulai memeluk agama
islam sekitar tahun 1337 M yang dibawa oleh Haji Purba. Pada abad 14 M
perdagangan dan pelayaran sudah banyak dilakukan oleh orang muslim.
Dari cerita Purwaka Caruban Nagari
diperoleh informasi bahwa terjadi perpindahan Bandar perdagangan. Bandar dagang
yang dahulunya terlertak pada Bandar Muhara Jati di dukuh Pasambangan dipindah
kearah selatan yaitu ke Caruban. Alasan mengapa Bandar dagang dipindahkan,
menurut cerita Bandar dagang di Muhara jati mulai berkurang keramaiaannya.
Caruban sendiri dibangun o0leh Walangsungsangatau Ki Samadullah atau Cakrabumi
sebagai kuwu dan seterusnya. Sejak Syarif Hidayatullah, Bandar-bandar di
Cirebon makin ramai dan makin baik untuk berhubungan dengan Parsi-Mesir, Arab,
Cina, Campa, dan lainnya (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997:56).
Dengan kedatangan Belanda keadaan
ekonomi di Cirebon dikuasai penuh oleh VOC. Dengan diadakannya perjanjian
antara Belanda dengan Cirebon 30 April 1981, Cirebon selalu akan memelihara
kepercayaan terhadap Belanda. Akan tetapi, seluruh komoditi perdagangan di
Cirebon, dikuasai Belanda, hal ini hanya akan menguntungkan pihak Belanda dan
merugikan Cirebon. Belanda menerapkan monopoli perdagangan dan pertanian, salah
satu contohnya yaitu kebijakan menanam 10 pohon kopi tiap kepala keluarga di
Priangan Timur. Juga dengan surat perintah tanggal 1 Maret 1729.
Dari gambaran diatas kita kenali
bahwa pihak kesultanan sendiri dalam menjalankan perekonomian terutama terhadap
komoditi-komoditi ekspor kurang, peranannya lebih banyak ditangan Belanda. Hal
itu semuanya jelas dampak negative pengaruh kolonialisme Belanda sejak
perjanjian tahun 1981 dan seterusnya. Dengan perjanjian-perjanjian tersebut
Belanda sejak Kompeni menginginkan penguasaan atas daerah subur produksi kopi
dan lainnya dapat terlaksana, disamping rasa ketakutannya terhadap penguasaan
daerah Priangan Timur itu dikuasai oleh Banten dan juga Mataram (Departemen
Pendiidikan dan Kebudayaan, 1997:67).
Selain yang telah dibahas diatas,
keadaan ekonomi yang diterangkan oleh Uka Tjandrasasmita. Dapat dilihat pula
keadaan perekonomian dari sumber lainnya. Selain perdagangan dan pelayaran.
Perekonomian Cirebon juga ditunjang oleh kegiatan masyarakatnya yang menjadi
nelayan. Cirebon juga dikenal sebagai kota udang, artinya Cirebon juga memiliki
satu komoditi dagang utama yaitu terasi, petis dan juga garam.
Dalam kehidupan ekonomi juga masih
ada peran dari orang asing. Orang asing tersebut menjadi syahbandar atau yang
mengantur tentang ekspor impor perdagangan. Cirebon yang menjadi syahbandarnya
yaitu orang-orang Belanda. Alasan mengapa syahbandar diambil dari orang-orang
asing, karena orang-orang asing dianggap lebih mengetahui tentang cara-cara
perdagangan. Di kota Cirebon juga terdapat pasa tertua yaitu pasar yang
terletak di timur laut alun-alun kraton Kasepuhan dan lainnya di sebelah utara
alun-alun kanoman.
POLITIK
Perkembangan politik yang terjadi pada Cirebon berawal
dari hubungan politiknya dengan Demak. Hal inilah yang menyebabkan perkembangan
Cirebon. Dikatakan oleh Tome Pires yang menjadi Dipati Cirebon adalah seorang
yang berasal dari Gresik. Kosoh, dkk (1979:94) Babad Cirebon menceritakan
tentang adanya kekuasaan kekuasaan Cakrabuana atau Haji Abdullah yang
menyebarkan agama islam di kota tersebut
sehingga upeti berupa terasi ke pusat Pajajaran lambat laun dihentikan.
Selain hubungannya dengan Demak, kehidupan politik pada
kala itu juga dipengaruhi oleh beberapa konflik. Konflik yang terjadi ada
konflik internal dan menjadi vassal VOC.
Pertama yang
terjadi, dimulai dari keputusan Syarif Hidayatullah yang resmi melepaskan diri
dari kerajaan Sunda tahun 1482. Syarif Hidayatullah wafat pada tahun 1570, dan
kepemimpinannya digantikan oleh anaknya yaitu Pangeran Ratu atau Panembahan
Ratu. Pada masa kepemerintahannya, Panembahan Ratu menyaksikan berdirinya
karajaan Mataram dan datangnya VOC di Batavia.
Panembahan Ratu cenderung berperan sebagai ulama dari
pada sebagai raja. Sementara di bidang politik, Panembahan Ratu menjaga
hubungan baik dengan Banten dan Mataram .Setelah wafat pada tahun 1650, dalam
usia 102 tahun, Panembahan Ratu digantikan oleh cucunya, yaitu Pangeran Karim
yang dikenal dengan nama Panembahan Girilaya atau Panembahan Ratu II karena
anaknya Pangeran Seda Ing Gayam telah wafat terlebih dahulu (Nina: online).
Ketika terjadi pemberontakan Trunojoyo, Panembahan
Senapati dijemput oleh utusan dari kesultanan Banten ke Kediri. Dalam
perjalanan kondisi Senapati yang sakit-sakitan menyebabkan dia meninggal dunia
dan akhirnya dimakamkan di bukit Giriliya. Sedangkan kedua anaknya dibawa ke
Banten, yaitu: Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya. Namun, kemudian
mereka dikembalikan ke Cirebon, disana mereka membagi tiga kekuasaan.
Ketiga penguasa Cirebon ini berusaha untuk menjadikan
diri sebagai penguasa tunggal. Sultan Sepuh merasa bahwa ia yang berhak atas
kekuasaan tunggal karena ia anak tertua. Sementara Sultan Anom, juga
berkeinginan yang sama sehingga ia mencoba mencari dukungan kepada Sultan
Banten. Di lain pihak, Pangeran Wangsakerta , yang menjadi pengurus kerajaan
saat kedua kakaknya dibawa ke Mataram, merasa berhak juga menjadi penguasa
tunggal. Sultan Sepuh mencoba mendapat dukungan VOC dengan menawarkan diri
menjadi vassal VOC. VOC sendiri tidak pernah mengakui gelar sultan pemberian
Sultan Banten dan selalu menyebut mereka panembahan (Nina: online).
Dengan
surat perjanjian tanggal 7 Januari 1681, Cirebon resmi menjadi vassal VOC.
Jadilah, urusan perdagangan diserahkan kepada VOC, berbagai keputusan terkait
Cirebon (termasuk pergantian sultan, penentuan jumlah prajurit) harus
sepersetujuan VOC di Batavia, ketika para Sultan akan bepergian harus atas ijin
VOC dan naik kapal mereka, dalam berbagai yupacara, pejabat VOC harus duduk
sejajar dengan para Sultan (Nina: online).
Setelah
kedatangan Belanda ke Cirebon membuat banyak
perubahan, khususnya di bidang politik. Pada tahun 1696, Sultan Anom II
atas kehendak VOC menjadi Sultan. Pada Tahun 1768 kesultanan Cirebon dibuang ke
Maluku.
Situasi politik Cirebon yang sudah terkotak-kotak itu, memang tidak bisa dihindarkan. Namun ada hal yang menarik, bahwa seorang keturunan Sunan Gunung Jati, yaitu Pangeran Aria Cirebon, tampak berusaha langsung atau tidak langsung untuk menunjukkan soliditas Cirebon, sebagai suatu dinasti yang lahir dari seorang Pandita Ratu. Pertama, ketika ia diangkat sebagai opzigther dan Bupati VOC untuk Wilayah Priangan dan kedua , ia menulis naskah Carita Purwaka Caruban Nagari (Nina: online).
Situasi politik Cirebon yang sudah terkotak-kotak itu, memang tidak bisa dihindarkan. Namun ada hal yang menarik, bahwa seorang keturunan Sunan Gunung Jati, yaitu Pangeran Aria Cirebon, tampak berusaha langsung atau tidak langsung untuk menunjukkan soliditas Cirebon, sebagai suatu dinasti yang lahir dari seorang Pandita Ratu. Pertama, ketika ia diangkat sebagai opzigther dan Bupati VOC untuk Wilayah Priangan dan kedua , ia menulis naskah Carita Purwaka Caruban Nagari (Nina: online).
Runtuhnya Kerajaan Cirebon
Pada
tahun 1649 Panembahan Ratu Pangeran Emas telah meninggal pada usia 102 tahun.
Dengan wafatnya Dipati Cerbon ke II, maka panembahan ratu menunjuk cucunya
yaitu Pangeran Karim untuk membantunya menjalankan roda pemerintahan Cerbon
Menggantikan ayahnya yaitu Dipati Cerbon ke II. Pangeran Karim waktu itu
berusia 48 tahun menggantikannya sebagai Kepala Pemerintahan Cerbon yang ke III
dengan gelar Panembahan Ratu II.
Karena
beliau wafat di Mataram sekitar tahun 1667 dan dimakamkan di pemakamn di bukit
Girilaya, maka disebutlah beliau oleh anak keturunannya dengan sebutan
Panembahan Girilaya. Akhirnya nama Panembahan Girilaya itulah yang disebut
terus menerus dalamberbagai sumber sejarah, baik dalam Babad Cirebon, Sejarah
Cirebon, Kitab Negara Kertabumi, maupun Kitab Purwaka Caruban Nagari. Oleh
Karena itu nama Panembahan Girilaya lebih terkenal dari pada gelar resmi pada
waktu penobatannya yaitu Panembahan Ratu ke II.
Pada
saat Panembahan Ratu masih hidup beliau mengawinkan Panembahan Girilaya dengan
Putri Sunan Amangkurat ke 1 tapi, untuk masalah kapan diselenggarakannya
pernikahan ini sendiri tidak jelas, karena saat itu Sunan Amangkurat ke 1 baru
naik tahta. Dan jika melihat pada literature lain itu adalah perkawinan kedua
Panembahan Girilaya. Padaperkawinannya yang pertama beliau dikaruniai 2 orang
anak yang bernama Panembahan Katimang dan Pangeran Gianti sedang pada
perkawinan ke II mendapat 3 orang anak yaitu Pangeran Martawijaya, Pangeran
Kertawijaya, dan Pangeran Wangsakerta.
Pada
masa pemerintahan Panembahan Ratu hubungan antara Cirebon dan Mataram sangat
Harmonis dan itu terjadi hamper selama 6 tahun. Tetapi setelah Cirebon dipimpin
Panembahan Girilaya hubungan yang tadinya harmonis berubah menjadi agak
merenggang karena perubahan sikap dari Amangkurat 1 yang beranggapan bahwa
Cirebon tak lebih baik atau tidak sederajat dengan Mataram. VOC yang mengetahui
kerenggangan hubungan antara Mataram- Cirebon memanfaatkan benar peluang ini
untuk mengadu domba mereka. Dalam waktu yang singkat strategi politik “Adu
Domba” VOC bisa membuat kesemrawutan dalam tubuh Kerajaan Mataram.
Dalam
kondisi yang serumit itu Sunan Amangkurat 1 diduga berusaha denga keras
mengatasinya dengan tindakan “pembersihan dan penertiban” yang pada nyatanya
dilakukan dengan kejam dan kekerasan. Tindakan itu memakan banyak korban
sehingga Panglima Angkatan Perang Mataram yang diandalakan ayahnya sendiri yaitu Dipati Anom yang
sekaligus putra Mahkota mulai membenci dan meninggalkan Sunan Amangkurat 1.
Pada
saat yang seperti itu Mataram mendapat kunjungan dari Panembahan Girilaya
beserta 2 orang anaknya Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kertawijaya serta
pengawalnya yang diperkirakan pada tahun 1666/1667. Namun alasan Panembahan
Girilaya mengunjungi Mataram dan sampai di sana (diperkirakan pada saat berumur
66 tahun) tidak ada penjelasan yang pasti. Setelah kejadian wafatnya Panembahan
Girilaya kedua anaknya yang ikut ke Mataram tadi ditahan dan dibawa oleh
Trunojoyo pada tahun 1678 dari Mataram ke Kediri. Sejak wafatnya Panembahan
Girilaya Cirebon telah terpecah belah dan hancur sehingga tidak mempunyai
wibawa lagi dan akhirnya menjadi mainan belanda, mataram dan banten.
Tidak
berhenti disini timbul masalah baru yakni para kerabat Kerajaan yang setia pada
Panembahan Girilaya yang tidak terima akan kemunduran Cirebon meminta bantuan
dari Sultan Ageng Tirtayasa Dari Banten. Dan untuk mengisi kekosongan dengan
cepat dan dengan pertimbangan yang matang Sultan Ageng Tirtayasa menetapkan
pejabat Kepala Negara Cirebon yaitu anak ketiga Panembahan Girilaya yaitu
adalah Pangeran Wangsakerta yang pada waktu itu tidak ikut kedalam kunjungan ke
Mataram dinobatkan sebagai Sultan Cirebon oleh Sultan Banten.
Pada
saat itu setelah Trunojoyo dapat memukul mundur pasukan Cirebon dan dapat
membuat ketakutan serta membuat lari Sunan Amangkurat 1. Hilanglah kekuasaan
Mataram yang Kejam dan Otoriter dan pada saat itu atas permintaan Sultan
Banten, Sultan Banten meminta Trunojoyo membawa dua putra mahkota pesakitan itu
untuk dibawa ke Kediri dan selanjutnya dibawa ke Banten. Selanjutnya karena
kurangnya keterangan yang jelas proses kembalinya 2 pangeran itu ke Cirebon
kurang jelas dan pula penobatannya Pangeran Martawijaya sebagai Sultan Sepuh
dengan gelar Raja Syamsudin dan Pangeran Kertawijaya sebagai Sultan Anom dengan
gelar Sultan Mahmud Badridi.
Dengan
adanya tiga sultan di Kerajaan Cirebon ini adalah titik dari masa akhir
Kerajaan Cirebon. Pada masa itu sudah ada usulan untuk membagi kerajaan menjadi
3 bagian tapi apa mau dikata ketidaksepahamlah yang didapat , karena masing
masing mempunyai minat yang sama untuk menjadi sultan Cirebon. Pada tahun 1681
tepatnya 23 Januari dilaksanakanperjanjian persahabatan antara Sultan-Sultan Cirebon dengan pihak VOC yang
diwakili oleh Van Dyck.
Dari
penandatanganan itu mengandung arti besar, karena peristiwa itu menjadi akar
dari konflik baru dicirebon. Menurut keterangan P.S. Sulendranigrat dalam
bukunya “Sejarah Cirebon” peristiwa penandatanganan inimenimbulkan perpecahan
dari para pembesar pemerintahan di Cirebon tentunya adalah pro dan kontra
diadakannya penandatangan perjanjian persahabatan tersebut. Dan setelah VOC
bubar tahun 1800 maka Gubernur Jenderal Daendles menetapkan langkah strategis
dengan mengeluarkan Reglement op het beheer van de Cheribonsche Landen pada 2
februari 1809 dan dengan keluarnya itu
tadi maka Sultan-Sultan di Cerbon yaitu
Kasepuhan , Kanoman dan Kacirebonan tidak memiliki kekuasaan lagi karena dijadikan
Pegawai Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Pada saat akan keluar keputusan
Pemerintah Kolonial Belanda , maka di Kesultanan Kanoman terjadi peristiwa
pemecahan diri Kanoman menjadi Kanoman dan Kacerbonan. Dengan Fakta diatas
dapat kita ketahui faktor faktor penyebab runtuhnya kerajaan Cirebon.ssumber : http://kerajaan-cirebon.blogspot.co.id/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar